- Arifki Chaniago menyatakan momen akrab Prabowo dan Jokowi di Istana Merdeka tidak mencerminkan keseluruhan hubungan politik mereka.
- Pertemuan tersebut mempertemukan Jokowi, Prabowo, dan Gibran dalam satu momentum visual tanpa kehadiran Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono.
- Arifki mengingatkan publik agar tidak menyimpulkan peristiwa ini sebagai indikasi koalisi atau konfigurasi politik untuk Pilpres 2029.
Suara.com - Momen akrab antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) saat berinteraksi di Istana Medeka, dinilai tidak cukup untuk menyimpulkan keseluruhan hubungan politik keduanya.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, mengatakan hubungan Jokowi dan Prabowo memiliki konteks yang cukup panjang.
Mengingat, sebelum mesra seperti sekarang, Jokowi dan Prabowo pernah menjadi rival dalam pemilihan presiden 2014 dan 2019.
“Ini menunjukkan bahwa hubungan politik bisa berubah mengikuti dinamika dan kepentingan yang berkembang. Rivalitas elektoral tidak selalu berarti hubungan personal atau politik harus terus berseberangan,” kata Arifki kepada wartawan, Selasa (18/8/2026).
Arifki mengatakan secara visual, konfigurasi Prabowo-Jokowi-Gibran menjadi lebih menonjol karena absennya Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.
Meski demikian, Arifki menilai ketidakhadiran Megawati dan SBY tidak perlu ditarik menjadi sebuah pertarungan simbolik.
Ia mengatakan dalam komunikasi politik, sebuah frame bisa membentuk persepsi. Tetapi persepsi itu tetap perlu dibaca bersama konteks yang lebih luas
Menurutnya posisi Prabowo yang berada di antara Jokowi dan Gibran juga memiliki makna simbolik tersendiri.
“Jokowi merupakan mantan Presiden, Prabowo Presiden saat ini, sementara Gibran adalah Wakil Presiden. Satu frame ini mempertemukan tiga posisi politik dalam satu momentum. Apakah itu memiliki konsekuensi politik lebih jauh, tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan,” kata Arifki.
Arifki mengatakan posisi Prabowo yang berada di antara Jokowi dan Gibran juga memiliki makna simbolik tersendiri karena mempertemukan tiga posisi politik dalam satu momentum.

Namun, apakah itu memiliki konsekuensi politik lebih jauh, Arifki mengatakan tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan.
Arifki mengingatkan agar momen tersebut tidak langsung dikaitkan dengan konfigurasi Pilpres 2029.
“Kita masih terlalu jauh kalau menjadikan satu momen sebagai indikasi koalisi atau pasangan politik 2029. Yang bisa kita katakan saat ini adalah hubungan komunikasi antara Jokowi dan Prabowo terlihat tetap cair,” ujar Arifki.
Menurut Arifki, hal yang lebih penting adalah tidak membaca politik hanya melalui satu sumber atau satu narasi. Di media sosial, hubungan elite sering dibaca secara hitam-putih.
Padahal dalam politik, kata dia, seseorang bisa berbeda kepentingan tetapi tetap berkomunikasi dengan baik. Dekat tidak selalu berarti satu agenda, dan berbeda tidak selalu berarti bermusuhan.
“Karena itu, saya melihat momen ini sebagai kode komunikasi yang baik, bukan kesimpulan politik. Apakah kedekatan tersebut akan berlanjut dan memiliki implikasi terhadap konfigurasi politik ke depan, tentu akan terlihat dari perkembangan politik berikutnya. Untuk saat ini, publik cukup membaca apa yang terlihat tanpa perlu menarik kesimpulan terlalu jauh,” tutur Arifki.