Suara Denpasar - Kasus perundungan di salah satu SMA Negeri favorit di Kota Denpasar, seputaran Pasar Kreneng, Provinsi Bali, mengejutkan masyarakat.
Aksi perundungan ini ternyata tersembunyi di balik kegiatan OSIS. Di mana, pelakunya adalah oknum OSIS atau senior terhadap adik kelas atau juniornya.
Meski demikian, banyak korban yang tak berani mengakui kejadian tersebut kepada orang tua mereka.
Lebih mengejutkan lagi, aksi perundungan ini berlangsung dengan modus berkedok kegiatan ekstrakulikuler yang dilakukan di luar sepengetahuan guru pembimbing.
Berdasarkan pengakuan orang tua salah satu siswa, kegiatan perundungan atau bullying dilakukan di luar jam pelajaran dan ekstrakurikuler resmi.
Sehingga, sulit bagi guru untuk mengawasi atau mengambil tindakan preventif. "Anak-anak takut untuk mengutarakan kasus ini," ungkap salah satu orang tua Murid pada Rabu, 20 Desember 2023.
Terungkap bahwa beberapa siswa junior bahkan pulang dengan kondisi menangis akibat perlakuan yang tidak mengenakkan dari seniornya.
Disebutkan juga, perundungan sempat mengarah ke tindakan fisik, tapi luput dari perhatian awak media.
Seorang siswa junior sempat mengalami luka serius, bahkan hingga terluka akibat lemparan kakak kelasnya.
Baca Juga: Ikuti Jejak Tim Liga 1 Lainnya, Persija Jakarta Beri Jatah Libur ke Pemain
"Jika terus dibiarkan aksi seperti ini tentu sangat berbahaya," kata orang tua siswa yang wanti-wanti namanya tak ditulis.
Selain dampak emosional, perundungan di SMA Negeri Denpasar juga memberikan beban finansial kepada siswa-siswi kurang mampu.
Oknum OSIS disebut-sebut kerap membuat program-program yang mengharuskan siswa untuk mengeluarkan uang.
Seperti pembelian pakaian, jaket, dan lain-lain. Ini tentu memberatkan bagi siswa-siswa dari keluarga miskin.
Dengan mengungkapkan kasus ini kepada media, diharapkan aksi bullying yang dilakukan oleh oknum OSIS dapat segera diakhiri.
Pihak sekolah diharapkan dapat mengawasi dengan lebih seksama segala kegiatan dan tindakan OSIS, serta mencegah terjadinya kegiatan yang memberatkan secara finansial bagi siswa tak mampu.