Depok.suara.com - Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, yang mensuplai 20 persen pasokan BBM harian di Indonesia mengalami kebakaran pada Jumat (3/3/2023) malam.
Kepala Pelaksana Penanganan Bencana Daerah DKI Jakarta, Isnawa Adji, melaporkan bahwa dampak dari kebakaran Depo Pertamina Plumpang mengakibatkan 17 orang meninggal dunia, 49 orang luka berat dan 2 orang luka sedang.
Sebelum terjadi ledakan di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, saksi mencium bau bensin yang menyengat, kemudian disusul dengan bau gas.
Tak lama kemudian, terjadi kebakaran Depo Pertamina Plumpang.
![Depo Pertamina Plumpang mengalami kebakaran [Tangkapan video di Twitter]](https://media.suara.com/suara-partners/depok/thumbs/1200x675/2023/03/04/1-depo-minyak-plumpang-twitter2.png)
Bau Bensin dan Gas
Hal itu dikatakan oleh saksi bernama Wahyu Indra yang sempat menolong sejumlah korban kebakaran Depo Pertamina Plumbang, seperti dilansir dari Tempo.
Indra mengalami pingsan saat menolong para korban, dia tahu-tahu tersadar berada di Rumah Sakit Mulyasari, Jalan Plumpang Semper, Jakarta Utara.
Selain itu, saksi lainnya bernama Heni Anggraeni (51) juga mengakui dirinya mencium aroma bensin dan gas sebelum ledakan terjadi.
Informasi yang beredar, ada kebocoran pipa di dekat Komplek Koramil Jl. Tanah Merah Bawah RT 12 RW 9, Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara.
Baca Juga: 4 Doa Pengantin Baru untuk Pernikahan Penuh Berkah, Ada yang Khusus Malam Pertama
Irna, seorang warga, mengatakan kepada Liputan6.com bahwa kejadian ledakan pada Jumat (3/3/2023) jam 8 malam.
Menurutnya, tiang listrik meledak dan dia hanya mendengar ledakan kencang.
Isnawa merilis jumlah pengungsi yang berada di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara 132 orang, Masjid As Sholihin 63 orang, dan Kantor Kelurahan Rawa Badak Selatan 52 orang.
Kemudian, tempat pengungsian terdapat di Gedung Golkar Walang 258 orang, Kantor Suku Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi dan Energi Jakarta Utara 74 orang, Masjid Al Muhajirin 60 orang, serta ada juga pengungsi di RPTRA Rasella dan Setadion Rawa Badak yang masih didata jumlahnya, menurut laporan Tempo.