Depok.suara.com – Sebagai salah satu musisi berbakat di Indonesia, Ahmad Dhani tak terlepas dari sejumlah intrik dan kabar miring.
Di balilk kesuksesannya bersama Dewa 19, sempat muncul tuduhan kalau Dhani menyisipkan ajaran ataupun doktrin agama Yahudi dalam setiap karyanya.
Ajaran dan simbol Yahudi itu disebut muncul dalam sampul album, video klip hingga penampilannya sehari-hari.
Mantan suami Maia Estianty itu diangap kerap memasukkan unsur Yahudi dengan cara yang sangat halus, sehingga terkesan estetik.
Diantaranya simbol ‘Mata Ilahi’ (Eya of Prominence) dan piramida, seringkali muncul dalam karya-karyanya bersama Dewa 19.
Dalam satu kesempatan, Dhani juga terlihat menggunakan kalung Bintang David yang merupakan simbol Yahudi dan terdapat dalam bendera Israel.
Beragam tuduhan itu sempat dibuat dalam sebuah video dan tersebar di media sosial, sehingga mudah dilihat oleh siapapun.
Bahkan sempat beredar buku berjudul ‘ Fakta dan Data Yahudi di Indonesia’ karya Ridwan Saidi yang memajang wajah Dhani di sampulnya.
Maraknya beragam tuduhan tersebut, Ahmad Dhani akhirnya angkat bicara melalui video yang diunggah di channel YouTube VIDEO LEGEND pada 28 Januari 2020.
Baca Juga: BRI Liga 1: Hadapi Dewa United, Thomas Doll Ingin Persija Jakarta Tampil Lebih Tajam
Dalam video itu, Dhani membantah keras kalau dirinya ikut menyebarkan ajaran Yahudi dalam setiap karyanya.
"Ada sebuah gerakan black campaign seseorang atau kepompok kepada Dewa 19 atau saya. Mungkin dari 2009 ya video itu cukup viral, sepuluh, sebelas, tahun lalu. Video berjudul Dewa dan Yahudi kira-kira seperti itulah," kata Ahmad Dhani, seperti dikutip pada Kamis (24/8/2023).
Suami Mulan Jameela itu menganggap semua tudingan itu tidak berdasar. Sebab, menurutnya, hingga kini tak ada satupun penggemarnya yang berpindah keyakinan ke agama Yahudi.
"Berarti, artinya, entah Dewa 19 yang gagal meyahudikan Bala Dewa atau yang membuat video itu terlalu dungu?" ujar Dhani.
Secara silsilah keluarga, Ahmad Dhani memang memiliki garis keturunan Yahudi yang diperoleh dari kakenya, Jan Pieter Friederich Kohler yang merupakan seorang Yahudi-Jerman.(*)