Suara.com - Melanie Subono kembali mencuri perhatian publik dengan unggahannya yang menyentil soal perobohan rumah adat Toraja, Tongkonan.
Dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial, terlihat jelas rumah adat yang dikenal sakral oleh masyarakat Toraja dirobohkan dengan menggunakan alat berat.
Video tersebut memperlihatkan beberapa petugas kepolisian berada di lokasi.
Namun, mereka hanya berdiri menyaksikan proses penghancuran tanpa bisa berbuat banyak.
Momen itu pun menuai reaksi keras dari Melanie yang tak kuasa menyembunyikan rasa prihatin.
"Ada yang kirim ini di DM. Terima kasih. Kami bangsa yang menghargai tradisi, budaya, dan leluhur," tulis cucu mantan Presiden B.J. Habibie itu di keterangan unggahannya.
Meski tidak mengetahui secara detail latar belakang kejadian, Melanie menyayangkan rumah adat yang selama ini menjadi simbol kearifan lokal harus dihancurkan.
“Yeah mungkin ada sesuatu yang lebih penting akan dibangun di sana,” lanjutnya dengan nada sarkasme.
Tak berhenti sampai di situ, ia juga menyinggung insiden lain yang sempat viral.
“Belum cukup lihat gajah kebingungan masuk jalan tol? Iya sih ini cuma bangunan, benda mati,” kata Melanie seolah menyindir cara masyarakat memandang warisan budaya.
Melanie sendiri mengaku tidak mengetahui apakah video tersebut merupakan peristiwa lama atau baru. Namun, ia menekankan bahwa siapapun semestinya lebih menghargai warisan leluhur.
“Nggak tahu ini video baru atau lama atau apa, intinya tetap aja sama. Mungkin bukan bangunan seharusnya atau apalah. Biasanya mah juga gue yang salah,” tutupnya.
Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar warganet yang geram menyaksikan rumah adat dihancurkan.
“Wooooi! Rumah adat bersejarah itu! Belum tentu lu udah lahir waktu itu bangunan udah ada. Parah banget!” tulis seorang pengguna Instagram.
“Ini bangunan adat Toraja, Tongkonan, dengan filosofi kuat mengenai hubungan Tuhan-Manusia-dan Kematian,” komentar warganet lain.
“Dan ini bagian penting arsitektur tradisional Indonesia. Tolonglah sedikit dihargai, bukannya dirusak begitu saja. Toh bisa dipindahkan dengan baik dan benar,” harap pengguna lainnya.
Belakangan diketahui, peristiwa dalam video tersebut diduga terjadi pada Kamis, 3 Juli 2025 di Tana Toraja.
Rumah adat Tongkonan yang dirubuhkan itu menjadi korban sengketa antara dua keluarga besar di Toraja, yakni Tongkonan Kaladun dan Tongkonan Batu.
Sengketa bermula dari klaim hak atas tanah adat di kawasan Lion, Makale Utara.

Pihak Tongkonan Batu meyakini lahan itu adalah milik mereka, sehingga mendirikan Tongkonan dan beberapa lumbung di atasnya.
Namun, pihak Tongkonan Kaladun menolak klaim tersebut dan membawa perkara ini ke meja hijau.
Setelah melalui proses panjang hingga tingkat Mahkamah Agung, putusan final menyatakan tanah tersebut sah milik Tongkonan Kaladun. Atas dasar itu, dilakukan eksekusi oleh aparat setempat.
Puluhan personel TNI dan Polri dikerahkan untuk memastikan proses eksekusi berjalan lancar tanpa bentrokan.
Meski berlangsung dalam suasana tegang, eksekusi berhasil dilakukan tanpa perlawanan terbuka.
Di antara puing-puing rumah adat yang hancur, ditemukan dua batu Simbuang—batu sakral yang menjadi simbol sahnya kepemilikan tanah adat dalam struktur sosial Toraja.
![Melanie Subono tahu ada isu lain yang berkaitan dengan kerusakan alam. [Instagram/melaniesubono]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/06/08/85435-melanie-subono.jpg)
Temuan ini seolah menjadi pengingat sunyi atas konflik panjang yang terjadi sekaligus legitimasi spiritual terhadap keputusan hukum.
Sebagai penanda hak atas tanah yang telah dipulihkan, papan bertuliskan “Tanah Ini Milik Tongkonan Kaladun” ditancapkan di lahan tersebut.
Namun, bagi banyak pihak, rumah adat yang sudah hancur tak akan pernah bisa kembali.
Tragedi ini pun memicu perdebatan publik soal bagaimana negara seharusnya melindungi warisan budaya di tengah sengketa hukum yang melibatkan adat dan modernitas.