Dalam analogi sederhana, rakyat adalah bos dan pejabat adalah pegawainya.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya mereka menerima masukan dan kritik tanpa perlu emosi.
"Kan sudah tugasmu itu. Kamu yang dipilih, kamu mendapatkan kepercayaan, kamu digaji dari pajak yang disetor warga. Ya kamu jangan tersinggungan, jangan emosian," kata Tirta.
Sebagai penutup argumennya, Tirta menyarankan jika seseorang tidak siap mental untuk dikritik, sebaiknya tidak perlu mencalonkan diri sebagai pejabat publik atau mengumbar janji-janji saat kampanye.
"Ya mana ada pegawai yang emosi sama bosnya. Kan bersuara, kamu harusnya jangan emosian? Jangan tersinggungan. Kalau tersinggungan ya jangan kampanye, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kamu penuhi," ujar Tirta.