- Aurelie Moeremans merilis memoar berjudul Broken Strings yang mengungkap pengalaman pahit masa remajanya.
- Memoar tersebut secara terang-terangan membahas pengalamannya menjadi korban grooming dan kontrol mantan kekasih.
- Wawancara lama viral menunjukkan ia mengubur mimpi Puteri Indonesia demi menuruti keinginan kekasihnya.
Suara.com - Nama Aurelie Moeremans kembali menjadi perbincangan publik setelah merilis memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Buku ini menyita perhatian karena untuk pertama kalinya Aurelie membuka secara terang-terangan pengalaman pahit masa remajanya saat menjadi korban grooming, manipulasi, dan kontrol dari mantan kekasihnya yang hayh lebih tua.
Di tengah ramainya perbincangan soal buku tersebut, potongan wawancara lama Aurelie kembali viral di media sosial.
Dalam wawancara itu, aktris berdarah Belgia itu pernah menceritakan bagaimana ia harus mengubur salah satu mimpi terbesarnya, yakni mengikuti ajang Puteri Indonesia, demi menuruti keinginan kekasihnya saat itu.
Kini, pernyataan lama itu dikaitkan dengan pola perilaku grooming dan power abuse yang ia ungkap dalam bukunya.
Dalam wawancara tersebut, Aurelie mengungkap bahwa keinginannya mengikuti Puteri Indonesia bukan hanya datang dari dirinya sendiri, tetapi juga merupakan mimpi sang ibu.
“Jadi dulu aku sempat kepikiran mau ikutan Putri Indonesia, dan itu mimpinya mama juga dari dulu. Terus pacar aku saat itu enggak mau itu terjadi. Aku bilang, yaudah aku mau ikutan, tapi dia kayak, ‘no, no, no’," katanya seperti dikutip akun TikTok @berchanda8, Senin (12/
Penolakan sang kekasih bahkan disertai dengan usulan yang bertujuan agar Aurelie benar-benar tidak bisa mengikuti ajang tersebut.
“Dia bahkan bilang, ‘kamu mau tato enggak? Biar kamu ada… jadi kalau sudah tato kan enggak bisa ikutan.’”
Baca Juga: Usai Baca Buku Aurelie Moeremans, Feni Rose Ungkap Penyesalan
Aurelie akhirnya mengikuti permintaan itu, meski keputusan tersebut membuatnya harus merelakan mimpinya sendiri.
“Akhirnya aku tato gara-gara itu, untuk bikin pacar aku percaya aku enggak akan ikutan. Aku emang suka tato juga, cuma alasan utamanya itu sebenarnya bodoh banget. Itu semua cuma untuk ngejaga perasaan dan mentalnya pacar aku.”
Pernyataan ini kini kembali disorot karena dianggap mencerminkan bentuk kontrol dan manipulasi yang juga menjadi inti cerita dalam memoar Broken Strings.
Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan bagaimana dirinya berada dalam hubungan yang penuh tekanan psikologis sejak usia belia.
“Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun,” tulis Aurelie dalam kolom komentarnya sendiri di sebuah unggahan pada Jumat, 9 Januari 2025.
Dalam Broken Strings, Aurelie mengaku menjadi korban manipulasi dan kontrol dari pelaku tersebut, sebelum akhirnya secara perlahan berusaha menyelamatkan dirinya dari hubungan yang menyakitkan.