Suara.com - Indosiar menjadi sorotan setelah diduga meraup pendapatan fantastis dari sistem voting virtual gift (VG) pada malam penentuan Top 3 D’Academy 7.
Malam penentuan finalis yang digelar Rabu, 17 Desember 2025, berubah menjadi ajang perebutan koin virtual dengan nilai ekonomi sangat besar.
Tasya dari Tangerang Selatan tercatat sebagai penerima virtual gift terbanyak dengan total 94 juta koin atau setara sekitar Rp2,02 miliar.
Raihan tersebut menempatkan Tasya di posisi teratas dalam perolehan koin pada malam krusial penentuan Top 3.
Di posisi berikutnya, Valen asal Pamekasan mengumpulkan sekitar 80,7 juta koin dengan estimasi nilai mencapai Rp1,7 miliar.
Sementara April asal Cirebon, yang sebelumnya konsisten bersaing, berhasil mengamankan sekitar 73 juta koin atau setara Rp1,6 miliar.
Jika dijumlahkan, total perputaran dana dari virtual gift dalam satu malam diperkirakan mencapai Rp5,32 miliar.
Angka tersebut dinilai sangat fantastis untuk sebuah program pencarian bakat yang ditayangkan hanya dalam hitungan jam.
Perlu diketahui, sistem koin atau gift ini sudah diterapkan sejak babak 10 besar D'Academy 7.
Penggunaan virtual gift berlangsung konsisten mulai dari Top 10, Top 8, Top 6, Top 4, hingga Top 3 dan Grand Final.
Seluruh tahapan tersebut menjadikan kiriman koin penonton sebagai faktor penentu kelolosan maupun kemenangan peserta.
![Profil Top 3 D'Academy 7, siap adu kualitas menuju Grand Final. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/17/60728-profil-top-3-dacademy-7.jpg)
Secara keseluruhan, diperkirakan terdapat sekitar tujuh momen penentuan berbasis virtual gift sepanjang kompetisi berlangsung.
Jika diakumulasi dari seluruh fase, pemasukan Indosiar dari sistem ini ditaksir menembus puluhan miliar rupiah.
Berkat D'Academy 7, Indosiar juga mengklaim posisinya sebagai program televisi nomor satu di Indonesia.
Rating acara ini menembus angka 8,4 persen, capaian yang terbilang langka di tengah ketatnya persaingan televisi nasional.
Pada jam tayang yang sama, share penonton Indosiar mencapai 41 persen, mengungguli kanal televisi lain secara signifikan.
Capaian tersebut membuka peluang kenaikan pendapatan iklan secara drastis di luar pemasukan dari virtual gift.
Namun, di tengah pencapaian itu, muncul pertanyaan besar dari publik mengenai esensi ajang pencarian bakat ini.
Sejumlah warganet menilai D'Academy mulai bergeser dari kompetisi kualitas menjadi arena adu kekuatan finansial.
"Indosiar padahal sudah banyak iklan, tapi masih serakah dengan VG hingga rela menurunkan kualitas. Ke depan, kalau ada acara kompetisi yang mengharuskan kirim virtual gift, sebaiknya kompak jangan ada yang mengirim. Biar kualitas yang bersaing secara sehat," komentar seorang warganet.
Warganet lain menyoroti aspek profesionalisme dalam penentuan pemenang berbasis gift.
"Tidak profesional jika gift dijadikan tolok ukur kemenangan. Ini bukan prestasi, tapi yang berduit yang dikedepankan. Sama saja merusak marwah Indosiar, yang hanya sebatas cari untung, bukan mencetak penyanyi berprestasi," tulis warganet lainnya.
Nada serupa juga disampaikan warganet yang mempertanyakan arah kompetisi dangdut tersebut.
"Ini bukan lagi ajang pencarian penyanyi yang berkelas dan berkualitas, tapi ajang pencarian uang terbanyak. Wow, keren banget ya Tasya dapat uang sebanyak itu dalam hitungan jam, buset!" ujar komentar lainnya.
Bagaimana menurutmu?
Kontributor : Chusnul Chotimah