Suara.com - Serial Stranger Things resmi memperluas semestanya melalui proyek spin-off animasi berjudul Tales from ’85 yang diproduksi langsung oleh Netflix.
Spin-off ini menjadi serial animasi pertama dalam semesta Stranger Things dan menghadirkan pendekatan visual serta narasi yang berbeda dari versi live-action.
Tales from ’85 diposisikan sebagai penghubung cerita antara Stranger Things Season 2 dan Season 3 dengan latar musim dingin tahun 1985.
Kehadiran serial ini menjadi jawaban Netflix atas antusiasme penggemar yang masih haus cerita setelah semesta utama berakhir awal 2026.
1. Latar Waktu Musim Dingin yang Belum Pernah Dieksplorasi

Tales from '85 mengambil latar musim dingin 1985, menghadirkan Hawkins bersalju dengan atmosfer mencekam yang belum pernah ditampilkan sebelumnya.
Cerita berlangsung di antara Season 2 dan Season 3, memperluas kronologi resmi tanpa mengganggu alur utama serial live-action.
Musim dingin memberi nuansa visual baru yang lebih gelap, sunyi, dan misterius dibanding latar musim panas khas Stranger Things.
Pendekatan ini memperkuat ketegangan cerita sekaligus memperkaya pengalaman emosional penonton setia semesta Hawkins.
2. Petualangan Geng Original Melawan Ancaman Baru

Serial ini kembali mengikuti Eleven, Mike, Will, Dustin, Lucas, dan Max dalam petualangan penuh misteri paranormal.
Baca Juga: Top 10 Series Netflix Indonesia Akhir Desember 2025, Mens Rea Kokoh di Puncak
Mereka harus menghadapi monster baru dari Upside Down yang meneror Hawkins di tengah cuaca ekstrem musim dingin.
Ancaman baru ini tidak pernah muncul di versi live-action, membuka kemungkinan eksplorasi dunia Upside Down lebih luas.
Kisah persahabatan dan keberanian tetap menjadi inti cerita, menjaga identitas emosional khas Stranger Things.
3. Gaya Animasi Retro ala Kartun 1980-an

Secara visual, Tales from '85 terinspirasi kartun Sabtu pagi era 1980-an seperti He-Man dan The Real Ghostbusters.
Netflix memilih animasi 2D dengan warna cerah yang kontras dengan elemen horor supernatural khas semesta Stranger Things.
Desain ini menciptakan nostalgia kuat bagi penonton dewasa sekaligus ramah bagi generasi baru penggemar.