- Polres Metro Jakarta Selatan tidak menemukan narkoba di TKP; ditemukan obat medis dan surat rawat jalan RSPI almarhumah Lula.
- Ayah almarhumah mengungkap Lula memiliki riwayat penyakit GERD dan pembengkakan usus yang sering kambuh.
- Keluarga menyayangkan Lula menahan rasa sakitnya sendiri, yang diduga menyebabkan komplikasi hingga kematian pada Jumat, 23 Januari 2026.
Suara.com - Di tengah duka yang menyelimuti keluarga dan sang kekasih, Reza Arap, media sosial justru riuh dengan berbagai spekulasi liar mengenai penyebab kematian perempuan 26 tahun tersebut.
Sejumlah warganet mengaitkan kepergian mendadak sang influencer dengan rumor penggunaan obat-obatan terlarang hingga overdosis.
Isu tak berdasar seperti penggunaan pods berisi kandungan narkoba hingga Whip Pink Gas atau "happy balloon" sempat mencuat di berbagai kolom komentar.
Namun, spekulasi liar tersebut terbantahkan oleh data kepolisian dan keterangan resmi pihak keluarga yang mengungkap riwayat medis almarhumah.
Temuan Polisi: Obat Medis RSPI, Bukan Narkoba
Polres Metro Jakarta Selatan bergerak cepat meredam isu yang beredar dengan merilis hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Berdasarkan laporan yang ditandatangani Kapolres Metro Jakarta Selatan, tidak ditemukan indikasi pesta narkoba atau tanda-tanda penggunaan zat terlarang di apartemen korban.
Yang ditemukan penyidik justru bukti bahwa Lula sedang menjalani perawatan medis.
"Di lokasi ditemukan obat-obatan dan surat rawat jalan dari RSPI (Rumah Sakit Pondok Indah)," tulis laporan kepolisian tersebut.
Baca Juga: Sakit Borongan, Gejala ISK yang Dibeberkan Lula Lahfah Sebelum Meninggal
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Iskandarsyah, juga mempertegas bahwa tidak ada indikasi kekerasan atau hal mencurigakan lainnya pada tubuh jenazah.
"Tidak ada tanda kekerasan," ujar Iskandarsyah saat dikonfirmasi awak media, Sabtu, 24 Januari 2026.
![Suasana haru di pemakaman Lula Lahfah di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, pada Sabtu, 24 Januari 2026. [Tiara Rosana/Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/24/52549-pemakaman-lula-lahfah.jpg)
Terkait prosedur autopsi untuk memastikan penyebab kematian secara forensik, pihak kepolisian menyebut bahwa keluarga memilih untuk tidak melanjutkannya.
"Dari keluarga ada permohonan untuk tidak diautopsi. Tapi kami masih koordinasi dengan pihak rumah sakit," tambah Iskandarsyah.
Ayah Ungkap Penyakit Lambung dan Usus
Bantahan terkuat terhadap rumor overdosis datang dari ayah kandung Lula, Muhammad Feroz.
Ditemui usai prosesi pemakaman, Feroz menjelaskan bahwa putrinya memiliki riwayat penyakit pencernaan yang cukup serius, yakni GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan masalah pada usus.
Kondisi kesehatan Lula dikabarkan memang sempat menurun drastis saat pergantian tahun baru lalu.
"Kalau firasat sih enggak, cuma kan yang kita tahu semua ya waktu tahun baru dia sempat masuk ke rumah sakit beberapa hari. Itu memang dia punya GERD ya, itu udah yang sering kambuh," kata Feroz dengan mata sembab.
Lebih detail, Feroz menyebutkan adanya komplikasi lain yang diderita putrinya namun sering disembunyikan dari keluarga agar orangtuanya tidak khawatir.
"Sering kambuh, terus dia juga ada pembengkakan di usus. Itu yang sering dia keluhin, tapi dia enggak keluh ke keluarga. Dia keluhnya sama teman-temannya, teman dekatnya. Dia bilang sakit banget," tutur Feroz.
Menurut Feroz, rasa sakit di bagian kiri tubuh putrinya sering terasa kencang. Dia menduga, kematian Lula adalah akibat komplikasi dari penyakit yang ditahannya tersebut.
"Mungkin komplikasi dari situ. Saya kira sakit. Ya semua tahulah pas tahun baru dia di rumah sakit," imbuhnya.
Menahan Sakit Sendirian
Penuturan sang ayah menyiratkan betapa Lula berusaha terlihat kuat di depan keluarganya.
Feroz menyesalkan bahwa putrinya lebih memilih memendam rasa sakit itu atau hanya bercerita kepada teman dekatnya, sehingga keluarga tidak bisa mengambil tindakan medis lebih cepat saat kondisi kritis terjadi di apartemen.
"Tapi kita enggak tahu gitu loh. Kalau kita tahu mungkin kita suruh dia berobat lah, tapi kenapa dia enggak gitu. Ya itu mungkin akhirnya dia tahan, dia tahan, dia tahan akhirnya tadi malam itu," ucap Feroz dengan nada penyesalan.
Sebelum ditemukan meninggal dunia, keluarga mengira Lula menjalani aktivitas normal seperti biasa.
Kecurigaan baru muncul ketika Lula tidak memberikan kabar seharian hingga siang hari.
"Kita enggak tahu, jadi dia normal seperti biasa kan, malam tidur, pagi aktivitas. Ya udah cuma ya hari itu sampai siang enggak ada kabar," tuturnya.
Pintu apartemen yang terkunci dari dalam akhirnya dibuka paksa oleh pihak manajemen atas permintaan asisten rumah tangga.
Saat itulah Lula ditemukan sudah tidak bernyawa di atas kasur dengan posisi berselimut, mengenakan kaus putih dan celana pendek hitam.
Dokter pribadi yang datang, dr. Rizki Nirwandhi Putra, memastikan kematiannya pada pukul 19.23 WIB, Jumat, 23 Januari 2026.
Dengan adanya konfirmasi riwayat medis dan bukti surat rawat jalan dari rumah sakit, isu miring mengenai overdosis ataupun penggunaan "balon gas" yang ramai di media sosial terbukti tidak benar.
Kepergian Lula Lahfah murni disebabkan oleh kondisi kesehatan yang memburuk.