- Kasus pembacokan mahasiswi UIN Suska Riau oleh Raihan Mufazzar dipicu oleh obsesi dan rasa sakit hati akibat cinta yang ditolak.
- Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa ketidaksiapan mental dalam menghadapi penolakan asmara dapat berujung pada tindakan pidana yang fatal.
- Rekomendasi film seperti 500 Days of Summer hingga The Holiday mengulas sisi emosional cinta bertepuk sebelah tangan sebagai pembelajaran hidup bagi penonton.
Suara.com - Kasus penganiayaan brutal terhadap Farah, mahasiswi UIN Suska Riau cukup menyita perhatian baru-baru ini.
Tragedi yang terjadi di lingkungan kampus tersebut memicu keprihatinan luas, terutama setelah motif di balik aksi nekat pelaku terungkap ke publik.
Terungkap bahwa motif pelaku, Raihan Mufazzar, adalah sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Berdasarkan keterangan kepolisian, aksi ini bukanlah tindakan spontan, melainkan sebuah rencana yang telah dipersiapkan dengan matang.
Pihak Polres Pekanbaru menyatakan Raihan sudah berniat melakukan penganiayaan terhadap Farah. Dari rumah, pelaku sengaja membawa senjata tajam untuk menemui korban di kampus.
Kejadian ini menjadi pengingat kelam tentang bagaimana obsesi dan ketidaksiapan menerima penolakan dapat berujung pada tindakan kriminal yang fatal.
Cinta bertepuk sebelah tangan, motif Raihan menganiaya Farah, menarik dibahas. Hal ini bahkan sering jadi tema dalam produksi di banyak film.
Dunia sinema seringkali memotret kepedihan, kegalauan, hingga perjuangan seseorang saat perasaan cintanya tidak disambut oleh orang yang dipuja.
Ya, di artikel ini, kami tak membahas kasusnya, melainkan film-film yang memakai tema cinta bertepuk sebelah tangan.
Baca Juga: Lirik Lagu Manis yang Jadi Sinyal Kelam, Detik-Detik sebelum Mahasiswi UIN Dibacok Teman Kampus
Berikut adalah 4 rekomendasi film yang menggambarkan dinamika rasa sakit dan perjuangan menghadapi cinta yang tak terbalas:
1. The Holiday (2006)
Jika kamu butuh alasan untuk berhenti mengejar seseorang yang tidak menghargaimu, film arahan sutradara Nancy Meyers ini adalah jawabannya. The Holiday menawarkan sudut pandang yang dewasa tentang bagaimana kegagalan asmara justru bisa menjadi pintu menuju kebahagiaan baru.
Dikisahkan Iris (Kate Winslet) yang terjebak dalam obsesi tidak sehat terhadap rekan kerjanya, sementara di belahan dunia lain, Amanda (Cameron Diaz) baru saja dikhianati oleh kekasihnya.
Keduanya sepakat untuk bertukar rumah selama liburan demi melarikan diri dari realita yang pahit. Di lingkungan yang benar-benar asing inilah, mereka tidak hanya menemukan kedamaian, tetapi juga menemukan jati diri dan sosok baru yang lebih layak menerima cinta mereka. Film ini berpesan: terkadang kamu hanya perlu pergi menjauh untuk bisa sembuh.
2. Love Actually (2003)
Melihat orang yang paling kita cintai bersanding dengan orang lain di pelaminan adalah definisi nyata dari patah hati. Itulah yang dialami oleh Mark dalam film Love Actually. Situasinya kian rumit karena wanita yang ia cintai, Juliet, menikah dengan sahabat karibnya sendiri, Peter.
Momen paling menyentuh muncul saat Mark harus merekam hari bahagia mereka sambil menahan rasa cemburu. Adegan ikonik ketika Mark mengungkapkan perasaannya melalui tumpukan poster di depan pintu Juliet pada malam Natal menjadi simbol pengabdian yang tulus.
Meskipun ia tahu perasaannya tidak akan mengubah keadaan, Mark mengajarkan kita bahwa menyatakan kejujuran terkadang cukup untuk membuat hati merasa lega tanpa harus memaksakan kepemilikan.
3. A Little Thing Called Love (2010)
Film legendaris dari Thailand ini merupakan representasi sempurna dari manis pahitnya cinta monyet di masa sekolah. Khun Nam, seorang gadis remaja yang merasa dirinya "biasa saja", jatuh hati pada Shone, kakak kelas populer yang tampak mustahil untuk digapai.
Alih-alih terus meratapi nasib, Nam menjadikan cintanya sebagai bahan bakar untuk bertransformasi. Ia bekerja keras memperbaiki penampilan, prestasi, dan kepribadiannya bukan semata untuk pamer, melainkan untuk membuktikan bahwa ia layak diperhatikan.
Film ini tidak hanya bicara soal romansa, tapi juga tentang kekuatan persahabatan dan bagaimana cinta bisa memotivasi seseorang untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
4. 500 Days of Summer (2009)
500 Days of Summer membedah dinamika antara Tom, seorang pria romantis yang sangat mengandalkan takdir, dan Summer, perempuan yang tidak percaya pada ikatan serius.
Tom terjebak dalam fantasinya sendiri, menganggap setiap momen bersama Summer adalah tanda bahwa mereka berjodoh. Sementara itu, Summer sudah sejak awal menyatakan bahwa ia tidak menginginkan hubungan formal.
Ketidakmampuan Tom dalam membedakan antara "kenyataan" dan "ekspektasi" inilah yang membawa penonton pada perjalanan emosi yang sangat melelahkan namun penuh pelajaran.
Film ini adalah pengingat keras bahwa mencintai seseorang tidak secara otomatis membuat orang tersebut wajib mencintai kita kembali.