- Film sekuel Joko Anwar, Pengabdi Setan 2: Communion (2022), memindahkan teror ke rusun padat Jakarta.
- Keluarga Rini pindah ke rusun berharap aman, namun terisolasi badai, rahasia sekte ayah mulai terkuak.
- Secara teknis, film ini unggul dengan sinematografi klaustrofobik dan desain suara detail untuk membangun ketegangan.
Suara.com - Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menanti sebuah sekuel.
Namun bagi Joko Anwar, waktu tersebut digunakan untuk meracik sebuah mimpi buruk yang jauh lebih megah, lebih gelap, dan lebih menyesakkan.
Pengabdi Setan 2: Communion, yang dirilis pada tahun 2022, bukan sekadar kelanjutan cerita; ia adalah sebuah eskalasi horor yang memindahkan rasa takut dari rumah tua yang terisolasi ke sebuah rumah susun (rusun) padat penghuni yang justru terasa lebih mencekam.
Pengabdi Setan 2: Communion akan tayang pada Kamis (26/3/2026) malam ini pukul 22.45 WIB di Trans 7. Berikut kami sajikan sinopsisnya.
Beberapa tahun setelah kejadian mengerikan yang merenggut nyawa Ibu dan si bungsu Ian, Rini (Tara Basro) bersama adik-adiknya, Toni (Endy Arfian) dan Bondi (Nasar Anuz), serta ayah mereka (Bront Palarae), mencoba memulai hidup baru di sebuah rusun di Jakarta.
Mereka percaya bahwa tinggal di tempat yang ramai akan membuat mereka lebih aman. Namun, asumsi itu keliru.
Keadaan berubah menjadi bencana ketika sebuah kecelakaan lift tragis terjadi, diikuti oleh badai besar yang memutus aliran listrik dan mengisolasi rusun tersebut dari dunia luar.
Di tengah kegelapan dan banjir yang mengepung, satu per satu rahasia kelam tentang pekerjaan sang Ayah dan keterlibatan keluarga mereka dalam sekte penyembah setan mulai terkuak.
Rini dan adik-adiknya menyadari bahwa mereka tidak pernah benar-benar lari; mereka justru masuk ke dalam "perjamuan" yang telah disiapkan untuk mereka.
Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian dalam Communion adalah jajaran pemainnya.
Tara Basro tetap menjadi jangkar emosional film ini sebagai Rini yang protektif namun rapuh.

Bront Palarae memberikan performa yang penuh misteri, membuat penonton terus bertanya-tanya tentang motif sebenarnya dari karakter sang Ayah.
Nasar Anuz juga menunjukkan pendewasaan karakter yang luar biasa sebagai Bondi, memberikan dinamika persaudaraan yang kuat.
Namun, scene-stealer sejati dalam sekuel ini tak pelak lagi adalah Ratu Felisha.
Berperan sebagai Tari, seorang penghuni rusun yang tangguh namun menyimpan ketakutan mendalam, Ratu Felisha membuktikan kelasnya sebagai aktris watak.
Kehadirannya memberikan warna baru dan intensitas yang segar, terutama dalam salah satu adegan paling ikonik di kamar mandi yang akan membuat bulu kuduk penonton berdiri.
Jangan lupakan pula Asmara Abigail yang, meski muncul singkat sebagai Darminah, tetap memberikan aura intimidasi yang elegan namun mematikan.
Secara teknis, Pengabdi Setan 2: Communion berada di level yang berbeda untuk standar film horor Indonesia.
Joko Anwar bersama sinematografer Ical Tanjung berhasil memanfaatkan ruang sempit rusun menjadi sebuah labirin klaustrofobik yang menyesakkan.
Penggunaan kegelapan total (total darkness) yang hanya diterangi oleh korek api atau lampu kilat kamera memberikan pengalaman visual yang sangat imersif.
Desain suaranya pun sangat detail. Setiap derit pintu, tetesan air hujan, hingga suara langkah kaki di lorong rusun dirancang untuk membangun ketegangan secara perlahan sebelum akhirnya meledak dalam jump scare yang efektif dan tidak murahan.
Pengabdi Setan 2: Communion adalah sebuah pencapaian besar dalam sinema horor Tanah Air.
Film ini berhasil memperluas lore atau semesta "Ibu" dengan cara yang ambisius.
Meski memiliki durasi yang cukup panjang, ritme yang terjaga dan pembangunan atmosfer yang solid membuat penonton tetap terpaku di kursi.
Bagi Anda yang mencari horor yang tidak hanya mengandalkan penampakan, tetapi juga kedalaman cerita dan kualitas akting mumpuni, film ini adalah jawabannya.