Suara.com - Platform streaming Prime Video menghadirkan film terbaru berjudul Mercy yang mempertemukan Chris Pratt dengan Rebecca Ferguson.
Mengangkat tema teknologi, film ini mengeksplorasi sisi gelap kecanggihan kecerdasan buatan.
Ceritanya berpusat pada situasi ketika teknologi AI berperan sebagai “hakim” yang menentukan nasib seseorang yang dituduh melakukan kejahatan.
Premis tersebut semakin menarik dengan kehadiran deretan aktor Hollywood, seperti Annabelle Wallis, Kylie Rogers, Kali Reis, hingga Chris Sullivan. Film ini disutradarai oleh Timur Bekmambetov, dengan naskah yang ditulis oleh Marco van Belle.
Lantas, seperti apa kisah yang disajikan dalam film berdurasi 100 menit ini? Simak sinopsisnya berikut ini!

Film Mercy berlatar di masa depan dekat di Los Angeles dan berfokus pada Chris Raven, seorang detektif LAPD yang diperankan oleh Chris Pratt.
Raven digambarkan sebagai sosok yang bergulat dengan kecanduan alkohol, dan hidupnya berubah drastis ketika ia tiba-tiba dituduh membunuh istrinya sendiri.
Situasi menjadi semakin mencekam ketika Raven terbangun di kursi eksekusi, dengan waktu yang sangat terbatas, yakni hanya 90 menit untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah di hadapan hakim berbasis AI bernama Maddox, diperankan oleh Rebecca Ferguson.
Diketahui, dalam film ini, keadilan ditegakkan oleh Mercy Program, sebuah sistem kecerdasan buatan yang sebenarnya didukung oleh Raven sendiri.
Sistem ini dirancang untuk mereformasi proses pengadilan, menciptakan mekanisme hukum yang lebih efisien, dan menghadapi peningkatan kasus kejahatan berat di Los Angeles.
Program Mercy memberi terdakwa akses ke segala sesuatu di wilayah hukumnya yang memiliki kamera aktif terpasang, seperti pada bel pintu, lampu lalu lintas, hingga media sosial.
Terdakwa pun dipersilakan untuk mencari bukti yang dapat membantu pembelaan mereka. Program Mercy bahkan juga dapat mengakses basis data informasi digital apapun yang telah dikirim atau diterima terdakwa melalui pesan teks atau surel.
Di tengah tekanan yang ekstrem ini, Raven, yang masih berada di bawah pengaruh alkohol, harus memainkan dua peran sekaligus.
Ia berperan sebagai penasihat hukum untuk dirinya sendiri, sekaligus detektif yang menyelidiki pembunuhan istrinya, sambil menghadapi konsekuensi dari tindakan-tindakan yang dilakukannya sebelum tragedi itu terjadi.