- Sikap dingin istri karena masalah finansial membuat ia gagal menyadari perjuangan dan kelelahan fisik suami yang bekerja keras dalam diam.
- Meski tak berpenghasilan tetap, peran suami sebagai sosok yang membantu rumah tangga dan mengurus anak adalah bentuk kasih sayang yang sering kali terlambat diapresiasi.
- Kematian meninggalkan penyesalan mendalam bagi sang istri, menjadi peringatan bahwa kehangatan sikap jauh lebih berharga daripada status ekonomi pasangan.
Suara.com - Dunia maya tengah dihebohkan oleh sebuah utas memilukan dari akun Threads bernama Syifahusnamalia.
Curhatan tersebut menjadi peringatan keras bagi para pasangan suami istri di seluruh Indonesia, khususnya mengenai bagaimana sikap terhadap pasangan saat kondisi finansial sedang terpuruk.
Syifahusnamalia membagikan kisah penyesalan terdalamnya setelah kehilangan sang suami untuk selama-lamanya.
Penyesalan itu muncul bukan hanya karena kehilangan orang tercinta, melainkan karena perlakuan dingin dan ketus yang ia berikan kepada suaminya di hari-hari terakhirnya, hanya gara-gara sang suami tidak memiliki penghasilan tetap.
Dalam unggahannya, Syifahusnamalia menceritakan bahwa usia pernikahan mereka baru menginjak lima tahun dengan seorang anak balita berusia dua tahun.
Konflik batin dimulai dari perbedaan status ekonomi keduanya. Sang istri merupakan seorang pekerja kantoran dengan gaji tetap, sementara suaminya adalah seorang freelancer.
Sebagai freelancer, penghasilan sang suami tidak menentu. Ada kalanya ia membawa uang, namun tak jarang pula ia tidak menghasilkan sama sekali. Ketidakpastian ini memicu perubahan sikap pada sang istri.
"Aku bersikap baik dan hangat saat dia punya penghasilan, tapi akan bersikap dingin dan seolah dia cuma numpang tidur di rumahku saat dia tidak sedang berpenghasilan," tulis Syifahusnamalia dalam Threads-nya dikutip Senin, 30 Maret 2026.
Padahal, sang suami digambarkan sebagai sosok "anti-patriarki" yang sangat membantu di rumah. Ia mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga hingga merawat anak mereka sejak bayi, mulai dari memandikan hingga menidurkan.
Kondisi semakin memburuk ketika selama dua bulan terakhir, sang suami tidak mendapatkan proyek atau penghasilan.
Seluruh beban cicilan dan biaya hidup otomatis ditanggung oleh gaji sang istri. Hal ini membuat ego Syifahusnamalia meninggi dan sikapnya semakin dingin.
Namun, di balik sikap dingin istrinya, sang suami ternyata berjuang keras secara diam-diam. Ia sering begadang di meja kerjanya hingga pagi hari, mencoba segala cara untuk kembali mendapatkan penghasilan demi keluarga.
Dua hari sebelum suaminya meninggal, Syifahusnamalia sempat melihat dua gelas botol kopi kemasan yang habis di meja kerja suaminya. Alih-alih bertanya atau menyemangati, ia justru tetap bersikap judes dan mengabaikan suaminya karena merasa kesal.
Detik-Detik Terakhir yang Memilukan
Malam terakhir sebelum kepergiannya, sang suami masih sempat bercanda meskipun mendapatkan respons dingin dari sang istri. Ia kemudian pamit untuk bekerja di depan layar komputer. Syifahusnamalia yang baru pulang kantor pun tertidur pulas tanpa curiga.
Keesokan harinya, pemandangan memilukan menyambutnya. Ia menemukan suaminya dalam keadaan telungkup di depan meja komputer dengan wajah yang sangat pucat.
"Aku menangis sejadi-jadinya dan bilang maaf ke dia namun tidak bangun juga. Ketika aku bawa ke rumah sakit nyawanya sudah tidak terselamatkan. Dokter bilang dia terlalu kecapekan dalam waktu yang sangat lama," kenangnya dengan penuh duka.
Melalui unggahannya, Syifahusnamalia berpesan kepada seluruh istri agar lebih peka terhadap kondisi suami. Jangan sampai masalah materi menutup empati terhadap kondisi kesehatan dan psikis pasangan.
"Andai waktu itu aku lebih peka terhadap kondisi badannya yang cukup capek karena terus-terusan begadang. Tapi aku mementingkan egoku yang tak kunjung reda. Sampai hari ini aku menyesal dan aku rindu banget sama kamu mas. Aku kesepian," tutupnya.