Viral Presiden Pecat Gubernur karena Pakai Celana Ketat saat Bersepeda di Turki

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 24 Juli 2026 | 16:03 WIB
Viral Presiden Pecat Gubernur karena Pakai Celana Ketat saat Bersepeda di Turki
Pemecatan Gubernur Ardahan Mehmet Fatih Cicekli akibat celana ketat sepeda menuai dukungan ribuan warga. (Yahoo)
baca 10 detik
  • Presiden Erdogan mencopot Gubernur Ardahan Mehmet Fatih Cicekli akibat kontroversi penggunaan pakaian ketat bersepeda.

  • Lebih dari 10.000 warga menandatangani petisi mendesak pengembalian jabatan Cicekli karena dinilai berprestasi.

  • Pemecatan ini menyingkap ketegangan budaya antara gaya hidup modern pejabat dan nilai tradisional masyarakat Ardahan.

Suara.com - Presiden Recep Tayyip Erdogan mendadak mencopot Mehmet Fatih Cicekli dari jabatannya sebagai Gubernur Provinsi Ardahan. Keputusan drastis ini meluncur deras setelah foto sang gubernur mengenakan pakaian ketat saat mengayuh sepeda mendadak viral di media sosial.

Langkah tegas tersebut memicu gelombang simpati yang sangat besar dari masyarakat lokal di wilayah perbatasan Turki. Ribuan warga kini bersatu padu menggalang aksi nyata untuk menuntut pengembalian jabatan pimpinan daerah favorit mereka.

Pencopotan resmi Cicekli tertuang dalam keputusan presiden yang ditandatangani langsung oleh Erdogan pada 17 Juli lalu. Meski dokumen negara tak mencantumkan alasan spesifik, desakan pemecatan menyeruak kuat dari celotehan sejumlah politisi yang mempersoalkan gaya berbusana sang pejabat saat mengampanyekan olahraga.

Anggota Partai Rakyat Republik (CHP) yang merupakan oposisi utama, Inan Akgun Alp, melempar kritik tajam terkait prioritas kerja Cicekli. Ia menganggap penggunaan celana olahraga ketat saat bertugas lapangan sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala daerah.

"Dia berkeliling memakai celana ketat, menghabiskan seharian bersepeda dengan pengawal di depannya, bersepeda memakai celana ketat sampai sore," ujar Alp sebagaimana dikutip dari situs berita T-24 dalam debat parlemen pekan lalu.

"Seorang gubernur tidak bisa berkeliaran di pusat kota seperti ini."

Kritik pedas juga datang dari Samil Tayyar, mantan legislator partai penguasa pimpinan Erdogan. Menurutnya, etika berpakaian pejabat publik harus senantiasa menyesuaikan nilai budaya lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

"Masyarakat bebas memakai apa saja dalam kehidupan pribadi mereka, tetapi seorang gubernur tidak boleh mengunjungi masyarakat dengan celana ketat saat bertugas; hal itu tidak sejalan dengan keseriusan negara. Di lingkungan sosial yang tradisional seperti Ardahan, hal itu sama sekali tidak dapat diterima," tulis Tayyar melalui akun X miliknya.

Cicekli yang baru saja menduduki kursi gubernur sejak Januari lalu langsung memberikan tanggapan tegas. Sosok yang gemar mempromosikan gaya hidup sehat ini menegaskan bahwa pakaian tersebut merupakan kostum resmi dalam dunia olahraga.

baca juga

"(Kami akan) terus mengayuh. Saya adalah seorang atlet yang berlatih berlayar, mendayung, dan bersepeda. Pakaian yang saya kenakan adalah pakaian olahraga," kata Cicekli mengklarifikasi.

Aksi pencopotan yang dinilai berlebihan ini menyulut kemarahan publik hingga memicu aksi penggalangan dukungan massa. Lebih dari 10.000 orang telah membubuhkan tanda tangan dalam petisi daring untuk mendesak pemerintah pusat memulihkan posisi Cicekli.

Warga menganggap Cicekli telah mengukir prestasi nyata selama memimpin Ardahan. Ia dinilai sangat gigih menggerakkan kegiatan pemuda, memajukan dunia olahraga, serta mendongkrak potensi pariwisata berbasis sepeda.

Momen perpisahan Cicekli di Ardahan diwarnai suasana haru yang mendalam pada Rabu lalu. Ratusan pesepeda lokal bahkan berkonvoi mengawal kendaraan sang mantan gubernur hingga ke luar wilayah perbatasan Armenia dan Georgia tersebut.

"Saya percaya bahwa saya tidak mengecewakan mereka yang menjamin dan berdiri di samping saya sepanjang perjalanan saya hingga saat ini," ujar Cicekli dengan penuh emosional di hadapan para pendukungnya. "Saya percaya bahwa ini adalah kehormatan terbesar dari semuanya."

Dukungan internasional turut mengalir dari Anggota Parlemen Eropa asal Spanyol, Nacho Sanchez Amor. Pelapor khusus untuk Turki tersebut menilai bahwa manuver kritik dari oposisi sebenarnya menyuarakan agenda konservatif islami dari kelompok penguasa.

Kasus pemecatan ini menambah daftar panjang ketegangan antara simbol moderat-modern dengan nilai-nilai tradisional konservatif di Turki. Provinsi Ardahan yang berada di wilayah timur dikenal memiliki norma sosial yang sangat memegang teguh adat istiadat.

Penetapan Cicekli pada Januari lalu sebenarnya diharapkan membawa angin segar bagi modernisasi kawasan perbatasan tersebut. Namun, benturan antara kebiasaan personal pejabat dengan ekspektasi budaya lokal justru mengakhiri masa jabatannya secara mendadak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bobby Nasution Jadi Gubernur Sumut Pertama yang Berkantor di Kepulauan Nias

Bobby Nasution Jadi Gubernur Sumut Pertama yang Berkantor di Kepulauan Nias

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 14:38 WIB

URI Tak Bawahi Seluruh Kampus maupun Utak-atik Anggaran Kemendikti Saintek

URI Tak Bawahi Seluruh Kampus maupun Utak-atik Anggaran Kemendikti Saintek

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 18:52 WIB

Mobil Listrik Mewah yang Berkeliaran di Jakarta Bakal Kena Pajak 75 Persen

Mobil Listrik Mewah yang Berkeliaran di Jakarta Bakal Kena Pajak 75 Persen

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 15:09 WIB

Terkini

Kasus Korupsi HGB Bogor: DPR Desak KPK Ungkap Jaringan di Balik Orang Kepercayaan Menteri

Kasus Korupsi HGB Bogor: DPR Desak KPK Ungkap Jaringan di Balik Orang Kepercayaan Menteri

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:52 WIB

Menyambung Cerita Desa Pidpid Lewat Kemasan Jamur Ramah Lingkungan

Menyambung Cerita Desa Pidpid Lewat Kemasan Jamur Ramah Lingkungan

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 17:51 WIB

Membedah Dugaan Keterlibatan Nusron Wahid Lewat 'Orang Kepercayaan' di Kasus HGB ATR/BPN

Membedah Dugaan Keterlibatan Nusron Wahid Lewat 'Orang Kepercayaan' di Kasus HGB ATR/BPN

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:51 WIB

3 Rekomendasi Setrika yang Cepat Panas dan Licin, Sekali Gosok Kusut Hilang

3 Rekomendasi Setrika yang Cepat Panas dan Licin, Sekali Gosok Kusut Hilang

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 17:51 WIB

DPRD DKI Usul LRT Gandeng Pasaraya Manggarai untuk Kantong Parkir

DPRD DKI Usul LRT Gandeng Pasaraya Manggarai untuk Kantong Parkir

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:45 WIB

Profil Norman Joesoef, Pengusaha Industri Pertahanan yang Merambah Ekosistem Media

Profil Norman Joesoef, Pengusaha Industri Pertahanan yang Merambah Ekosistem Media

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:43 WIB

YLBHI Soroti Pembahasan RUU Reforma Agraria yang Dinilai Terlalu Cepat

YLBHI Soroti Pembahasan RUU Reforma Agraria yang Dinilai Terlalu Cepat

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:41 WIB

Modus Pasutri di Jakarta: Bawa Anak Balita saat Curi Motor Agar Tak Dicurigai dan Dikasihani

Modus Pasutri di Jakarta: Bawa Anak Balita saat Curi Motor Agar Tak Dicurigai dan Dikasihani

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:39 WIB

Temuan Granat Asap Gegerkan Warga Cempaka Putih, Polisi Pastikan Sudah Tidak Aktif

Temuan Granat Asap Gegerkan Warga Cempaka Putih, Polisi Pastikan Sudah Tidak Aktif

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:37 WIB

Lonjakan Biomassa Jepang Bikin Indonesia Alami Deforestasi Lebih Parah, Mengapa?

Lonjakan Biomassa Jepang Bikin Indonesia Alami Deforestasi Lebih Parah, Mengapa?

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:35 WIB

×