- Mercusuar Films dan Digital Frame Production merilis film horor Juminten Edan yang dijadwalkan tayang tahun 2026 mendatang.
- Film garapan sutradara Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh ini mengisahkan teror psikologis seorang perempuan disabilitas bernama Juminten.
- Cerita berfokus pada konflik masa lalu dan trauma kelam yang menimpa Juminten sekembalinya ke pulau terpencil asalnya.
Suara.com - Industri film horor Indonesia kembali berinovasi dengan menghadirkan narasi yang tidak biasa.
Mercusuar Films bersama Digital Frame Production baru saja merilis first look dari proyek terbaru mereka, Juminten Edan.
Bukan sekadar menyajikan jump scare, film ini mendobrak pakem dengan menempatkan seorang perempuan disabilitas sebagai pusat dari segala teror.
Disutradarai oleh duet Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, dengan naskah garapan penulis kenamaan Alim Sudio, Juminten Edan menjanjikan pengalaman sinematik yang mencekam sekaligus menyentuh sisi psikologis penonton.
Sinopsis: Kepulangan yang Berujung Petaka
![First look film horor Juminten Edan yang dibintangi Meisya Amira dan Dimas Aditya akan tayang pada 2026 ini. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/04/92870-film-juminten-edan.jpg)
Cerita berpusat pada Juminten (diperankan oleh Meisya Amira), seorang perempuan dengan disabilitas wicara dan hambatan pendengaran.
Setelah delapan tahun merantau, Juminten memutuskan kembali ke pulau terpencil tempat ia dibesarkan bersama suami dan anaknya.
Awalnya, kepulangan mereka disambut dengan pelukan hangat keluarga besar. Namun, suasana nostalgia itu segera menguap, berganti dengan ketegangan saat perilaku Juminten mulai berubah drastis.
Ia mulai menunjukkan gelagat tidak wajar yang mengancam nyawa orang-orang tercintanya.
Di balik aksi-aksi berbahaya itu, tersimpan rahasia kelam dan trauma masa lalu yang perlahan mulai terkuak.
Horor Sebagai Cermin Masalah Sosial
![First look film horor Juminten Edan yang dibintangi Meisya Amira dan Dimas Aditya akan tayang pada 2026 ini. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/04/74807-film-juminten-edan.jpg)
Sutradara Dedy Mercy mengungkapkan bahwa Juminten Edan adalah proyek yang dipersiapkan dengan sangat matang. Ia ingin membawa genre horor ke level yang lebih personal dan realistis.
"Melalui film ini, saya ingin menghadirkan miniatur masalah sosial dalam keluarga. Ada kehangatan, ada semangat, namun puncaknya adalah sebuah pesan kuat: di zaman modern sekarang, kewarasan justru seringkali lahir dari orang-orang yang dianggap 'gila'," ujar Dedy.
Film ini memotret bagaimana luka lama yang tidak sembuh bisa meledak menjadi teror yang nyata, menjadikan rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi ruang penuh ancaman.
Totalitas Meisya Amira: Berbicara Lewat Tatapan