- Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Pati viral karena pintu masuknya aneh, yaitu menghadap ke sawah dan membelakangi jalan umum.
- Akun Mixil Mina Munir mengkritik keras proyek tersebut sebagai bukti buruknya perencanaan birokrasi dan cara kerja pemerintah yang asal-asalan.
- Desain yang terbalik ini dikhawatirkan membuat koperasi sepi pengunjung, sehingga anggaran negara dari uang rakyat terbuang sia-sia demi pencitraan.
Suara.com - Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terus menjadi sorotan. Kali ini soal desain bangunan yang dianggap janggal.
Kejanggalan ini setidaknya disampaikan pengguna Instagram dengan akun Mixil Mina Munir. Bangunan KDMP yang ia soroti ada di Desa Jontro, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Berdasarkan pengamatannya, pintu masuk koperasi tersebut menghadap ke sawah dan justru membelakangi jalan. Hal ini dirasa aneh karena orang diyakini bakal bingung jika hendak masuk.
"Koperasi ini menghadap sawah dan membelakangi jalan umum. Gimana kita nggak marah melihat cara kerja pemerintah seperti ini," ucapnya dalam unggahan di Instagram pada Senin, 18 Mei 2026.
Lihat postingan ini di Instagram
Kondisi infrastruktur yang nyeleneh ini mengundang tanya besar dari masyarakat luas mengenai efektivitas pembangunan di tingkat desa.
Mixil menilai fenomena ini bukan sekadar kesalahan teknis lapangan, melainkan ada masalah besar dalam proses perencanaan di birokrasi.
"Jadi ini bukan sekadar salah bangunan, tapi gambaran cara negara bekerja tanpa pikiran," tegas Mixil.
Keberadaan koperasi yang membelakangi jalan raya dianggap sebagai keputusan yang absurd bagi sebuah tempat usaha retail.
"Kenapa sih tidak menghadap jalan saja? Siapa yang merancang? Terus siapa yang menyetujui?" tanya Mixil.
Ia mengkhawatirkan anggaran yang sudah dikucurkan akan terbuang sia-sia karena fungsi utama koperasi sebagai pusat aktivitas ekonomi tidak akan berjalan maksimal.
Jika akses pintu masuknya saja tersembunyi, masyarakat tentu akan merasa kesulitan untuk sekadar berkunjung atau berbelanja kebutuhan pokok.
"Kalau pintunya saja membelakangi jalan, siapa yang mau mampir, Bos?" sindirnya menyoroti logika perdagangan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa setiap rupiah yang digunakan untuk pembangunan fisik berasal dari uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat.
![Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, Cirebon. [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/04/36374-koperasi-desa-kopdes-merah-putih.jpg)
"Jadi ini bukti bahwa proyek negara dibuat asal-asalan, bukan untuk kebutuhan rakyat, tapi demi laporan dan pencitraan," tuturnya menyayangkan kondisi tersebut.