- Kebakaran akibat kelalaian penggunaan lilin melanda rumah Anisa Rahma dan Anandito Dwis pada akhir April 2026.
- Sebanyak 80 persen bangunan rumah mengalami kerusakan parah sehingga keluarga tersebut harus tinggal sementara di kediaman orang tua.
- Proses renovasi rumah dilakukan secara bertahap karena membutuhkan biaya besar dengan capaian baru mencapai 20 persen saat ini.
Suara.com - Pasangan Anisa Rahma dan Anandito Dwis masih berjuang memulihkan kondisi rumah mereka yang terbakar beberapa waktu lalu.
Hingga sebulan setelah kejadian, proses renovasi disebut baru berjalan sekitar 20 persen.
Saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, baru-baru ini, Anandito mengungkapkan bahwa perbaikan rumah dilakukan secara bertahap karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Untuk keadaan rumah memang masih belum banyak kami lakukan. Proyeknya masih memerlukan biaya yang cukup besar. Jadi kami bertahap, memaksimalkan ruangan-ruangan yang bisa diperbaiki dan bisa ditempati," kata Anandito kepada awak media.
Diketahui, kebakaran terjadi pada akhir April 2026 dan menyebabkan sebagian besar area utama rumah mengalami kerusakan parah.
Anisa memperkirakan sekitar 80 persen bangunan terdampak. Bahkan, sebagian besar perabot rumah tangga ikut hangus terbakar.
"Kurang lebih 80 persen lah (yang terbakar). Ruang tengah, ruang utama, ruang kumpul, ruang makan," ujar Anisa.
"Kasur pun juga semua sudah habis kecuali sisa masih ada dua," katanya menyambung.
Anandito menambahkan, dari tujuh kamar mandi yang ada di rumah tersebut, hanya satu yang masih dapat digunakan.
Saat ini, mereka bersama anggota keluarga lainnya masih tinggal sementara di rumah sang ibu.
"Sekarang kami masih tinggal di rumahnya Mama Dito dulu, sampai rumah yang kebakaran ini mulai bisa ditempati. Sedikit-sedikit kita renovasi," tutur Anisa.
Mengenai penyebab kebakaran, Anisa menjelaskan api berasal dari lilin yang digunakan untuk mengusir lalat. Saat itu, sang ibu menyalakan lilin di meja makan sebelum tanpa sadar tertidur.
"Awalnya itu dari lilin. Mama pasang lilin untuk usir lalat. Mungkin karena capek, akhirnya ketiduran dan lupa kalau lilin masih nyala," imbuh mantan personel Cherrybelle ini.
Anandito mengatakan api baru diketahui sekitar pukul 02.30 WIB dini hari saat seluruh penghuni rumah sedang tertidur.
"Pas Mama buka pintu, api sudah besar banget. Sudah sampai ke atap, hordeng, meja makan. Seluruh ruang makan sudah penuh api," ucap Anandito.
Menurut Anandito, bantuan warga sekitar dan petugas pemadam kebakaran menjadi faktor penting yang mencegah kebakaran meluas.
Saat kejadian, keluarga bahkan tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena fokus mengevakuasi seluruh penghuni rumah.
Meski masih menghadapi dampak kebakaran, pasangan ini bersyukur kondisi psikologis kedua anak mereka relatif baik.
Anak-anak yang masih berusia sekitar 3,5 tahun disebut tidak menyaksikan langsung kobaran api saat kejadian.
"Kalau dibilang trauma, mungkin belum ya. Mereka masih kecil banget. Kalau ditanya sedih enggak kebakaran, jawabnya enggak, cuma ada air mata aja," kata Anisa.
Namun, Anandito mengakui dirinya masih sering teringat pemandangan saat api melalap rumah mereka.
Terlebih, musibah kebakaran datang berdekatan dengan berbagai ujian lain yang dialami keluarga, termasuk meninggalnya sang nenek dua minggu setelah kejadian.
“Dalam dua bulan ini banyak banget ujian. Setelah kebakaran, dua minggu kemudian nenek meninggal. Jadi memang bulan-bulan yang kami rasa lagi penuh dengan duka," ujar Anandito.
Meski demikian, keduanya memilih tetap saling menguatkan dan berusaha menjalani proses pemulihan secara perlahan.
"Insya Allah kita bisa ngelewatin semuanya dengan saling menyemangati, berdoa, dan demi anak-anak juga. Semoga semuanya bisa kembali dalam kondisi normal lagi," imbuh Anisa.