-
Hakim menolak pengurangan hukuman penganiayaan Brian Hickerson tiga hari sebelum kematian Hayden Panettiere.
-
Hickerson gagal menghapus status kekerasan berat meski mengklaim telah menyelesaikan seluruh masa percobaan.
-
Hayden Panettiere meninggal dunia pada usia 36 tahun akibat dugaan overdosis di apartemennya.
Suara.com - Pengadilan Los Angeles resmi menolak permohonan Brian Hickerson untuk mengurangi status kejahatan beratnya tiga hari sebelum aktris Hayden Panettiere meninggal dunia.
Keputusan tegas Hakim Olivia Rosales ini menggagalkan usaha mantan kekasih Panettiere tersebut dalam membersihkan rekam jejak penganiayaannya.
Dikutip dari Page Six, jaksa penuntut umum menolak keras dua permohonan Hickerson yang menginginkan penghapusan status narapidana dan penurunan hukuman menjadi pelanggaran ringan.
Penolakan yang diputuskan pada 13 Agustus 2026 tersebut mengonfirmasi bahwa status hukum tindak penganiayaan berat Hickerson tetap berlaku.
Pihak Kejari Los Angeles menegaskan bahwa permohonan serupa sebenarnya pernah diajukan dan ditolak pengadilan pada Juli 2025.
Meskipun Hickerson mengklaim telah menuntaskan masa percobaan peradilan, hakim tetap mengabaikan dokumen permohonan pemulihan nama baik tersebut.
Sebelumnya pada 2021, Hickerson menerima vonis 45 hari penjara, masa percobaan empat tahun, wajib mengikuti 52 kelas tindak kekerasan, serta larangan mendekati korban selama lima tahun.
Ia akhirnya mendekam di Penjara Pusat Pria LA selama 33 hari setelah mendapatkan potongan pemotongan masa tahanan 12 hari.
Hubungan asmara Panettiere dan Hickerson yang dimulai sejak 2018 kerap diwarnai dinamika kekerasan berulang hingga berujung penangkapan polisi.
Salah satu peristiwa penganiayaan brutal terjadi saat Valentine 2020 ketika Hickerson meninju wajah Panettiere di Jackson, Wyoming.
Bintang serial "Nashville" ini pernah menguraikan perjuangan beratnya melepaskan diri dari lingkaran kekerasan tersebut dalam buku memoar pribadinya.
"Mengeluarkan orang yang suka melakukan kekerasan dari hidup Anda seperti berusaha mencabut gulma yang sangat terbelit dalam hidup Anda, dan setiap kali Anda mencabutnya, gulma lain muncul kembali dan Anda berpikir, 'Saya pikir saya sudah mematikannya'," kata Panettiere saat diwawancarai Us Weekly pada Mei.
"Merekabisa selalu menemukan cara untuk merayap masuk kembali, bahkan jika Anda adalah orang dengan kemauan yang sangat kuat. Apa yang terjadi di Wyoming membantu mendorong saya ke arah yang benar, tetapi masih membutuhkan waktu lama bagi saya. Saya masih berjuang untuk memutusnya secara penuh untuk sementara waktu," lanjut Panettiere.
Hickerson secara terbuka membenarkan salah satu insiden intimidasi fisik yang sempat ingin ia sembunyikan dari buku memoar Panettiere.
Ia mengingat momen kelam saat mengancam memukul korban menggunakan telepon genggam di tengah pengaruh alkohol.
"Ada cerita di mana saya mabuk, kan? Hayden berdiri di seberang ruangan dan saya memegang telepon di tangan saya dan saya berkata, 'Hayden, saya beri kamu waktu 10 detik untuk lari secepat yang kamu bisa sebelum saya melemparkannya kepadamu'," kata Hickerson.
"Siapa yang ingin membaca hal seperti itu tentang diri mereka sendiri, kan? Namun kamu harus bisa bersikap jujur dan saya melakukannya. Saya melakukannya, jadi ya begitu," aku Hickerson mengenai isi tulisan memoar tersebut.
Hayden Panettiere menghembuskan napas terakhir pada usia 36 tahun di apartemennya akibat dugaan overdosis penggunaan obat-obatan. Petugas medis darurat sempat berupaya melakukan tindakan bantuan hidup jantung lanjut dan kompresi dada di lokasi sebelum Panettiere dinyatakan meninggal dunia.
Di lokasi kejadian tragis tersebut, tim medis menemukan obat pembalik overdosis jenis Narcan. Kisah penolakan hukum Hickerson ini mempertegas rekam jejak kelam yang menyelimuti sisa hidup sang aktris sebelum tutup usia.
Catatan peradilan Los Angeles mengonfirmasi seluruh kasus penganiayaan fisik antara Hickerson dan Panettiere sudah berkekuatan hukum tetap sejak 2021.