Suara.com - Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menegaskan mekanisme pengusulan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) telah diatur secara jelas dalam AD/ART dan Peraturan Perkumpulan NU.
Karena itu, ia meminta seluruh peserta Muktamar Ke-35 NU berpegang pada ketentuan organisasi dan tidak terpengaruh berbagai opini yang berkembang menjelang muktamar.
“Mengenai usulan AHWA sudah tertera cukup jelas di dalam AD/ART dan Peraturan Perkumpulan,” kata Gus Ipul.
Ia menjelaskan setiap Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang menjadi peserta muktamar mengusulkan sembilan nama AHWA pada saat registrasi.
Sembilan nama tersebut harus merupakan hasil Rapat Harian Syuriyah di masing-masing tingkatan.
“Setiap PC dan PW yang merupakan peserta muktamar mengusulkan sembilan AHWA pada saat registrasi sebagai hasil dari Rapat Harian Syuriyah di tingkatan masing-masing. Ini aturan organisasi,” ujarnya.
Menurut Gus Ipul, ketentuan tersebut sudah jelas sehingga tidak perlu dikembangkan menjadi berbagai spekulasi yang justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
“Tidak perlu kita beropini atau mengembangkan hal-hal yang membuat bias dan membuat banyak pihak salah paham,” katanya.
Jika terdapat aspirasi untuk mengubah ketentuan organisasi, kata Gus Ipul, hal itu dapat dibahas melalui forum resmi muktamar.
“Kalau nanti ingin mengubah aturan-aturan itu, bisa dilakukan pada saat muktamar. Tetapi kali ini yang menjadi pedoman adalah AD/ART dan Peraturan Perkumpulan yang telah diputuskan melalui proses-proses di dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama,” katanya.
Gus Ipul juga meminta peserta tidak mudah terpengaruh isu yang menggambarkan seolah-olah terdapat situasi genting atau tidak kondusif menjelang muktamar.
“Tidak perlu kita terpengaruh isu-isu di luar yang seolah-olah ada situasi yang gawat atau situasi yang tidak kondusif. Yang penting bagi kita sekarang adalah mengikuti seluruh prosedur dan aturan yang ada,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh peserta lebih kritis terhadap berbagai informasi dan opini yang beredar, terutama yang tidak memiliki dasar pada ketentuan organisasi.
“Saya mengajak seluruh peserta muktamar untuk tidak mudah terpengaruh oleh pendapat-pendapat yang mungkin tidak sesuai dengan ketentuan di lingkungan jam’iyah Nahdlatul Ulama, atau memang sengaja dibentuk menjadi opini-opini yang menyesatkan,” tegas Gus Ipul. ***