- POPSEA mengedukasi ribuan pengunjung festival musik Cherrypop 2026 di Candi Prambanan untuk mengelola sampah botol plastik.
- Perusahaan global tersebut telah mendaur ulang dua miliar botol plastik serta mereduksi emisi karbon selama dua tahun terakhir.
- Organisasi itu memberdayakan 1.669 pahlawan sampah dan ratusan pekerja perempuan untuk mewujudkan ekonomi sirkular yang inklusif.
Suara.com - Di balik dentuman bass yang menggetarkan tanah dan riuh rendah ribuan penonton di Festival Cherrypop 2026, ada sebuah gerakan yang tak kalah "berisik".
Di tengah euforia subkultur anak muda yang memadati kawasan Candi Prambanan, Sabtu (22/8/2026), sosok Prevented Ocean Plastic Southeast Asia (POPSEA) hadir mencuri perhatian.
Bukan membawa instrumen musik, POPSEA datang membawa misi besar: mengajak "anak skena" berpikir ulang tentang botol plastik yang mereka genggam di tengah konser.
Kolaborasi Musik dan Keberlanjutan
Cherrypop selama ini dikenal sebagai "lebaran"-nya kreativitas anak muda di Yogyakarta. Mulai dari musik, film, hingga seni rupa tumpah ruah di sini.
Namun, festival besar biasanya menyisakan satu masalah klasik: tumpukan sampah plastik.
Di sinilah POPSEA mengambil peran. Sebagai mitra keberlanjutan, mereka ingin mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi sebuah kesadaran kolektif yang keren.
"Kami ingin festival musik punya mitra keberlanjutan. Kehadiran kami di sini adalah sarana edukasi bahwa sampah plastik adalah tanggung jawab kita bersama, bukan orang lain," ujar Daniel Lawrence Angelo, CEO POPSEA, saat ditemui di sela-sela kemeriahan festival.
Angka yang Berbicara: Lebih dari Sekadar Angkut Sampah
POPSEA bukan pemain baru. Bagian dari inisiatif global Prevented Ocean Plastic asal Inggris ini sudah punya "kaki" di 12 kota besar Indonesia, mulai dari Medan hingga Makassar.
Prestasi mereka pun tak main-main. Dalam dua tahun terakhir, POPSEA telah mendaur ulang lebih dari 2 miliar botol plastik.
Mereka juga telah mengurangi lebih dari 297 juta kilogram emisi karbon. Menyuplai material daur ulang berkualitas untuk brand global ternama.
Namun bagi Daniel, angka-angka itu hanyalah bonus. Target utamanya adalah literasi.
"Masyarakat sering bertanya, sampah plastik ini mau diapakan? Jadi apa nantinya? Kami hadir di ruang publik seperti Cherrypop untuk menjawab itu secara nyata, bukan sekadar teori di pabrik," imbuhnya.
Sisi Humanis: Pemberdayaan Perempuan dan 'Waste Heroes'
Di balik kecanggihan mesin daur ulangnya, POPSEA digerakkan oleh denyut sosial yang kuat. Saat ini, mereka merangkul 1.669 waste heroes (pahlawan sampah) dan 340 pekerja.
Menariknya, lebih dari 50 persen tenaga kerja mereka adalah perempuan yang menduduki posisi kepemimpinan.
Ini membuktikan bahwa ekonomi sirkular bisa menjadi ruang yang inklusif dan memberdayakan.
Mengubah Budaya, Bukan Sekadar Tren
Daniel menegaskan bahwa Cherrypop 2026 hanyalah awal. Ke depannya, POPSEA berambisi masuk ke berbagai acara besar lainnya di Indonesia untuk mengubah cara pandang masyarakat.
"Harapan kami, masyarakat paham bahwa memilah sampah itu dimulai dari diri sendiri. Kami ingin mengubah persepsi: botol plastik bekas itu bukan sampah tak berguna, tapi bahan baku berharga," ucap Daniel.
Langkah kecil itu dimulai malam itu di Prambanan. Sambil menikmati lagu favorit, para penonton diajak untuk tidak meninggalkan jejak plastik.
Karena pada akhirnya, menjaga bumi adalah cara paling keren untuk merayakan masa depan.