Fresh.suara.com - Arie Kriting, komika yang terkenal dengan candaan khasnya yang mencerminkan budaya dan pariwisata Indonesia Timur, adalah seorang Muslim sejak lahir.
Ia memiliki nama lengkap Satriaddin Maharinga Djongki dan lahir pada tanggal 13 April 1985 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Saat artikel ini dibuat pada tanggal 7 Agustus 2023, usianya adalah 37 tahun.
Karir Arie Kriting di dunia hiburan dimulai ketika ia mengikuti acara "Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV" pada tahun 2013, di mana ia berhasil meraih posisi ketiga.
Kesuksesan itu membuka pintu bagi Arie untuk menjajaki dunia akting, yang akhirnya membuatnya semakin terkenal melalui film "Comic 8" dan berbagai judul film lainnya.
Arie bahkan telah mencoba peruntungannya sebagai sutradara dengan mengarahkan beberapa film, termasuk "Kulari Ke Pantai" (2018) dan "Pelukis Hantu" (2020).
Selain itu, Arie Kriting juga aktif di media sosial, terutama Instagram, di mana ia memiliki lebih dari 800 ribu pengikut.
Selama kariernya, Arie telah membintangi berbagai film, seperti "Ghost Writer 2," "Imperfect: The Series," "Cek Toko Sebelah: Babak Baru," dan "Petualangan Menangkap Petir," di antara lainnya.
Meskipun Arie Kriting adalah seorang Muslim dan telah jelas menyatakan keyakinannya sejak lahir, ada peristiwa yang menyebabkan beberapa orang meragukan agamanya.
Namun, Arie menanggapi hal tersebut dengan candaan dan mengklarifikasi bahwa dia tetap berpegang pada agama Islam, dan bahkan ia menyatakan bahwa dia tidak akan pernah berpindah agama, "sampai meninggal saya tidak akan jadi mualaf".
Baca Juga: Agama Mahalini, Mantap Tunangan dengan Rizky Febian yang Beragama Islam
Sepanjang kariernya, Arie Kriting telah mencatat banyak prestasi dan penghargaan. Ia telah meraih beberapa penghargaan nasional, termasuk Usmar Ismail Award pada tahun 2017 sebagai Aktor Pendukung Pria Favorit.
Di balik kesuksesan dan ketenaran yang ia raih, Arie Kriting juga memiliki kehidupan pribadi. Ia menikah dengan Indah Permatasari. Namun, pernikahannya sempat mengalami perdebatan publik karena kurangnya persetujuan dari ibu Indah Permatasari