Mohammed Kudus jadi pusat perhatian pasca kemenangan Ghana 3-2 atas Korsel di matchday kedua Piala Dunia 2022, Senin (28/11).
Kudus cetak dua gol pada laga itu, masing-masing pada menit ke-34 dan 68. Ghana sempat memimpin terlebih dahulu pada menit ke-24 lewat gol Mohammed Salisu.
Sedangkan dua gol Korsel diborong oleh Cho Gue-sung pada menit ke-58 dan 61. Kemenangan atas Korsel membuat Ghana berpeluang untuk lolos ke babak 16 besar mendampingi Portugal.
Penampilan Mohammed Kudus begitu menyita perhatian. Pemain Ajax itu disebut tokoh kunci kemenangan Ghana. Masih berusia 22 tahun, Kudus menjadi jajaran pemain muda yang bersinar di Piala Dunia 2022.
Kudus lahir di 2 Agustus 2000 di ibu kota Ghana, Accra. Kehidupan kecil Kudus dilalui dengan penuh perjuangan. Ia dibesarkan oleh ibu dan neneknya.
Ibu Mohammed Kudus, Mariama Suleman seperti di lansir dari coverghana.com merupakan penjualan makanan di pasar Nima, salah satu pasar di kota Accra.
Dari hasil jualanan makanan di pasar ini, Mariama bisa menghidupi Kudus dan dua saudara lainnya. Setiap harinya, Mariama berjualan di emperan pasar Nima. Namun, ia tak pernah meminta Kudus untuk ikut berjuang mencari nafkah.
Sejak kecil, Kudus dibebaskan Mariama untuk bermain dan belajar. Ibunda Kudus sangat mendorong putranya itu untuk bermain, utamanya sepak bola.
Namun Mariama sangat ketat memberikan pelajara agama Islam bagi Kudus. Kudus berasal dari etnis Hausa yang mayoritas beragama Islam. Untuk urusan agama, Mariama tidak bisa tawar menawar.
Kudus kecil dirawat oleh nenek saat ibunya berjualan makanan di pasar. Pilihan Mariama untuk membebaskan Kudus bermain sepak bola pada akhirnya membuka jalan bagi keluarga kecil ini berubah secara perekonomian.
![Mohammed Kudus dan ibunya, Mariama Suleman [coverghana.com]](https://media.suara.com/suara-partners/gol/thumbs/1200x675/2022/11/29/1-kudus.png)
Jalan itu terbuka saat Kudus masuk ke akademi Right to Dream di Ghana. Bakat sepak bolanya terlihat begitu menjanjikan. Di akademi ini, kemamapuan Kudus benar-benar diasah.
Sekedar infomrasi, Right to Dream merupakan akademi yang didirikan oleh mantan pemandu bakat Manchester United, Tom Vernon pada 1999. Pada 2021, akademi ini resmi dimiliki oleh Mansour Group, konsorsium pemilik Manchester City.
Pada usia 18 tahun, Kudus merantau ke tanah Eropa. Ia bergabung ke klub Denmark, Nordsjaelland. Di klub Denmark ini, kemampuan Kudus sebagai pesepak bola modern begitu terasah.
Ia lesakkan 14 gol dari 51 caps di semua kompetisi bersama Nordsjaelland. Kudus pun dilirik oleh tim besar Belanda, Ajax. 16 Juli 2020, Ajax gelontorkan dana 9 juta euro untuk mendapatkan Kudus.
Nasib anak penjual makanan di pasar Accra itu mulai berubah. Ia mendapat kesempatan tampil di panggung sepak bola Eropa dan menarik perhatian klub besar.
Saat di Ajax, Kudus beberapa kali ditempatkan sebagai false 9. Meski ia terbiasa bermain di gelandang atau pemain sayap.
Namun bermain di false 9, Kudus lebih agresif. False nine adalah posisi pesepak bola yang bertugas mengatur ruang, menciptakan peluang dan bisa mencetak gol.
Kekuatan dari Kudus ialah kaki kirinya. Nilai plus ini yang membuat Kudus bisa menjadi pemain andalan untuk merobek gawang lawan, seperti dua gol yang ia cetak ke gawang Korsel di Piala Dunia 2022.