2050, Resistensi Antibiotik Jadi Penyebab Kematian Tertinggi

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Jum'at, 22 Januari 2016 | 14:59 WIB
2050, Resistensi Antibiotik Jadi Penyebab Kematian Tertinggi
Ilustrasi obat. (Shutterstock)

Suara.com - Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), dr Harry Parathon, SpOG memperkirakan pada 2050 jumlah kematian tertinggi tak lagi disebabkan oleh penyakit kardiovaskular seperti stroke, jantung, dan diabetes, tetapi justru dipicu oleh resistensi antibiotik.

Perkiraan ini bukannya tak beralasan. Ia mengatakan penggunaan antibiotik tak bijak seperti tanpa disertai resep dokter menjadi salah satu hal yang memicu resistensi antibiotik di Indonesia.

"Kenapa jadi resisten karena diberi resep antibiotik dari dokter padahal penyakitnya hanya flu, pilek atau diare. Atau beli sendiri ke apotek, sekarang juga apotek kurang ketat dalam memberi pengawasan sehingga masyarakat mudah membelinya," ujar Harry pada Pfizer Press Circle (PPC) di Jakarta, Kamis (21/1/2016).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat membuat tubuh kebal pada bakteri sehingga ketika terinfeksi penyakit, seseorang membutuhkan antibiotik satu tingkat di atasnya yang tentu saja memiliki efek samping yang lebih tinggi.

"Kalau digunakan tidak sesuai tujuan, yakni mengobati penyakit karena infeksi bakteri, maka akan mengganggu bakteri normal yang ada dalam tubuh. Akibatnya, bakteri baik akan berubah menjadi bakteri yang menyebabkan penyakit," tambah Harry.

Untuk menekan kematian yang disebabkan oleh antibiotik, ia membagikan tips agar masyarakat lebih pintar dalam menyikapi keberadaan antibiotik.

Pertama, jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik. Konsumsi antibiotik hanya dengan resep dokter, dosis, dan jangka waktu sesuai resep.

Kedua, jangan membeli antibiotik berdasarkan resep sebelumnya, meski untuk penyakit yang sama. Jika masih tersisa, sebaiknya jangan digunakan.

Ketiga, saat berobat, tanya kepada dokter, mana obat yang termasuk antibiotik. Tanyakan dosis dan cara minumnya. Salah dalam penggunaan antibiotik bisa menyebabkan antibiotik tidak efektif, dan kebal terhadap kuman.

Keempat, habiskan obat sesuai anjuran dokter. Pemberhentian antibiotik yang tidak sesuai waktu atau terlalu cepat bisa membuat bakteri bertahan hidup dan menyebabkan infeksi berulang.

Kelima, penyakit seperti pilek, batuk, diare, bronkitis, radang tenggorokan, infeksi telinga, umumnya tidak memerlukan antibiotik. Jadi, kata Harry, jangan sungkan untuk menolak ketika dokter memberikan resep antibiotik pada jenis penyakit tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ini Bahaya Konsumsi Daging yang Disuntik Antibiotik

Ini Bahaya Konsumsi Daging yang Disuntik Antibiotik

Lifestyle | Jum'at, 22 Januari 2016 | 12:47 WIB

Penyakit Ini Tak Perlu Diatasi dengan Antibiotik

Penyakit Ini Tak Perlu Diatasi dengan Antibiotik

Health | Kamis, 21 Januari 2016 | 18:05 WIB

Kenali Bahaya Penggunaan Antibiotik Berlebih pada Anak-anak

Kenali Bahaya Penggunaan Antibiotik Berlebih pada Anak-anak

Health | Jum'at, 27 November 2015 | 11:31 WIB

Survei: Masyarakat Gemar Simpan Antibiotik di Rumah

Survei: Masyarakat Gemar Simpan Antibiotik di Rumah

Health | Kamis, 06 Agustus 2015 | 15:05 WIB

Terkini

5 Zodiak yang Paling Rajin Balas VN atau Typing Panjang Saat Debat

5 Zodiak yang Paling Rajin Balas VN atau Typing Panjang Saat Debat

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:50 WIB

Adaptasi Posisi Baru Rizky Ridho di Lini Tengah Skuad Macan Kemayoran

Adaptasi Posisi Baru Rizky Ridho di Lini Tengah Skuad Macan Kemayoran

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:49 WIB

Edukasi Gizi MBG Diusulkan Masuk Kurikulum, Dinilai Berpotensi Bebani Sekolah dan Guru

Edukasi Gizi MBG Diusulkan Masuk Kurikulum, Dinilai Berpotensi Bebani Sekolah dan Guru

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:47 WIB

3 Rekomendasi Sepatu Skechers untuk Recovery Run, Nyaman dengan Bantalan Empuk

3 Rekomendasi Sepatu Skechers untuk Recovery Run, Nyaman dengan Bantalan Empuk

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:46 WIB

Terbitkan Sprindik Baru, KPK Panggil Lagi Anggota DPRD Kota Bengkulu Vinna Ledy

Terbitkan Sprindik Baru, KPK Panggil Lagi Anggota DPRD Kota Bengkulu Vinna Ledy

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:44 WIB

Eks Wamen Imipas Silmy Karim Jalani Sidang Perdana Kasus Pemerasan Izin WNA Hari Ini

Eks Wamen Imipas Silmy Karim Jalani Sidang Perdana Kasus Pemerasan Izin WNA Hari Ini

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:41 WIB

Bukan Bali atau Labuan Bajo, Tur Jet Pribadi Rp3,6 Miliar Keliling Dunia Malah Pilih Lampung

Bukan Bali atau Labuan Bajo, Tur Jet Pribadi Rp3,6 Miliar Keliling Dunia Malah Pilih Lampung

Lampung | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:41 WIB

Polisi Hutan Tewas Tertimpa Pohon Saat Padamkan Karhutla Toraja Utara

Polisi Hutan Tewas Tertimpa Pohon Saat Padamkan Karhutla Toraja Utara

Sulsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:41 WIB

Makna Salib Merah di Demo Jakarta pada 28 Oktober 2026

Makna Salib Merah di Demo Jakarta pada 28 Oktober 2026

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:40 WIB

Rupiah Tiba-tiba Menguat, tapi Masih Betah di Level Rp18.128 per Dolar AS

Rupiah Tiba-tiba Menguat, tapi Masih Betah di Level Rp18.128 per Dolar AS

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:37 WIB

×