Kecelakaan Mobil Seperti Apa yang Bisa Sebabkan Gegar Otak?

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Jum'at, 17 November 2017 | 14:35 WIB
Kecelakaan Mobil Seperti Apa yang Bisa Sebabkan Gegar Otak?
Ilustrasi cedera kepala. (Shutterstock)

Suara.com - Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, mengklaim hasil pengecekan tim dokter rumah sakit menunjukkan bahwa kliennya mengalami kondisi gegar otak.

"Dokter waktu periksa katanya ini gejala gegar otak. Dikasih obat anti radang, anti sakit. Dikasih penenang. Karna kalau gegar otak supaya jangan goyang dulu," kata Fredrich ketika ditemui Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta Barat, Kamis (16/11/2017) malam.

Menurutnya, gejala gegar otak itu disinyalir setelah Ketua DPR RI itu mengalami pingsan usia mobil Toyota Fortuner yang ditumpangi Novanto menabrak tiang listrik di Jalan Permata Berlian, Jakarta Selatan. Dia juga mengatakan ada luka benjolan di bagian kepala Novanto yang diduga akibat kecelakaan tersebut.

Lalu seberapa mungkin kecelakaan mobil bisa menyebabkan gegar otak? Seperti dilansir dari laman CNN, gegar otak bisa terjadi pada kasus kecelakaan berat dimana kepala seseorang menyentuh kaca bagian depan. Kondisi ini juga bisa terjadi ketika kecelakaan mengakibatkan goncangan yang cukup ekstrem sehingga membuat otak dalam tengkorak terkena.

Cedera otak pada kasus kecelakaan bisa berkisar dari ringan sampai parah. Gejala ringan dari gegar otak bisa berupa pasien menjadi linglung atau kebingungan. Gejala lainnya, menurut Mayo Clinic, bisa meliputi sakit kepala, kehilangan keseimbangan, mengantuk, susah tidur atau tidur lebih banyak dari biasanya, depresi, cemas, perubahan mood, perubahan tingkah laku, ketidakmampuan berkonsentrasi dan gangguan ingatan.

Pasien gegar otak juga memiliki kemungkinan mengalami penglihatan kabur, gangguan pendengaran, ketidakmampuan untuk mencium atau rasa tidak enak di mulut.

Individu yang menderita gegar otak sedang sampai parah juga dapat mengalami kehilangan kesadaran hingga beberapa jam, ketidakmampuan untuk bangun, sakit kepala yang memburuk, kesemutan atau mati rasa di jari tangan atau kaki mereka.

Dalam kondisi gegar otak yang berat, cedera ini bisa mengakibatkan kematian. Namun pada pasien yang bertahan, mungkin akan mengalami keadaan koma selama beberapa hari.

Pasien yang pernah mengalami gegar otak juga dilaporkan dapat mengalami penurunan kemampuan menulis dan berbicara. Mereka mungkin juga mengalami kesulitan memahami apa yang mereka dengar, baca atau lihat. Oleh karena itu, mungkin sulit bagi pasien untuk mengerti atau terlibat dalam suatu percakapan.

"Trauma kepala bila sangat parah,  benar-benar dapat mengubah kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan sesuatu bahkan mengungkapkan realita yang dialaminya," kata psikiater Dr. Charles Raison.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Lakukan Ini Bila Anda Alami Gegar Otak

Lakukan Ini Bila Anda Alami Gegar Otak

Health | Kamis, 21 Januari 2016 | 12:18 WIB

Studi: Minuman Energi Bisa Memicu Trauma Otak

Studi: Minuman Energi Bisa Memicu Trauma Otak

Health | Selasa, 22 September 2015 | 15:47 WIB

Darah Beku di Kepala, Berbahayakah?

Darah Beku di Kepala, Berbahayakah?

Health | Selasa, 22 September 2015 | 14:49 WIB

Terkini

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:00 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB