alexametrics

Wabah Corona Covid-19 Ancam Kesehatan Mental Anak, Ketahui Tandanya

Rima Sekarani Imamun Nissa | Shevinna Putti Anggraeni
Wabah Corona Covid-19 Ancam Kesehatan Mental Anak, Ketahui Tandanya
Ilustrasi anak-anak mengisolasi diri di dalam rumah dan main gadget (Shutterstock).

Wabah virus corona Covid-19 yang mengubah kehidupan sosial manusia bisa berdampak pada kesehatan mental anak-anak.

Suara.com - Wabah virus corona Covid-19 telah berdampak besar pada kehidupan sosial manusia. Semua orang diminta tetap tinggal di dalam rumah dan menjaga jarak sosial untuk mencegah penyebaran virus.

Situasi ini pastinya berdampak pada kondisi mental banyak orang, karena harus lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah untuk jangka waktu yang belum jelas.

Apalagi banyak orang juga merasa ketakutan dan cemas akan penularan virus corona yang begitu cepat. Bukan tak mungkin seseorang bisa mengalami stres berat akibat pandemi global ini.

"Sebelumnya, tekanan sebesar ini belum pernah terjadi, apalagi ini dirasakan oleh semua orang," karta seorang psikoterapis dikutip dari Fox News.

Baca Juga: Awas, Sering Minum Air Panas Bisa Sebabkan Kanker Tenggorokan!

Bahkan, anak-anak juga bisa merasakan stres akibat wabah virus corona Covid-19. Dr Tali Raviv, associate director Center for Childhood Resilience di Ann & Robert H. Lurie Children's Hospital di Chicago telah mengatakan bahwa wabah ini bisa memengaruhi kesehatan mental anak-anak.

Ilustrasi anak-anak (shutterstock)
Ilustrasi anak-anak (shutterstock)

Saat stres dan rutinitas terganggu, normalnya orang-orang dari segala usia akan mengalami masa-masa sulit karena tak terbiasa. Pada anak-anak, masa-masa ini mungkin akan menyebabkan mimpi buruk, tangisan hingga amarah.

Orangtua juga bisa melihat tanda-tanda kesehatan mental anak terganggu atau mereka stres, seperti tiba-tiba suka mengisap jempol atau mengompol.

Pada anak remaja, Anda mungkin akan melihat perubahan fisiologis, seperti perubahan tidur dan nafsu makan, berkurangnya energi atau peningkatan gejala fisik, seperti sakit kepala atau perut.

Beberapa anak-anak mungkin juga lebih nyaman menarik diri dari lingkungan sosial atau terbiasa terisolasi. Akhirnya, meningkatnya kekhawatiran tentang kesehatan dan masa depan juga akan terjadi.

Baca Juga: Ibunda Jokowi Meninggal karena Kanker Tenggorokan, Ketahui Faktor Risikonya

Walaupun semua ini termasuk reaksi normal, orangtua harus mengamati perilaku anaknya dan memperhatikan perubahannya. Jadi, orangtua bisa membantu menjaga kesehatan mental anak-anak.

Komentar