WHO: Peningkatan Kasus Virus Corona Covid-19 Bukan karena Banyaknya Tes

Rabu, 24 Juni 2020 | 13:19 WIB
WHO: Peningkatan Kasus Virus Corona Covid-19 Bukan karena Banyaknya Tes
Warga DKI Jakarta antusias mengikuti uji cepat virus corona (COVID-19) di area Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (21/6/2020). (ANTARA/Fauzi Lamboka)

Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan peningkatan angka kasus virus corona Covid-19 hingga memecahkan rekor tertinggi secara global pekan lalu bukan hasil dari pengujian virus corona yang dilakukan secara besar-besaran di beberapa negara.

"Kami tidak percaya bahwa ini adalah fenomena (yang disebabkan oleh) pengujian Covid-19," kata Mike Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan WHO, Senin (22/6/2020).

"Saat Anda melihat ke daftar pasien di rumah sakit, (mereka) meningkat di beberapa negara dan kematian juga meningkat. Itu bukan karena banyaknya tes," sambungnya, dilansir CNBC.

Diketahui pada Minggu (21/6/2020), jumlah kasus baru yang dilaporkan ke WHO melonjak lebih dari 183.000 hanya dalam sehari, angka terbanyak yang dilaporkan sejauh ini.

Berkaitan dengan pernyataan WHO, pada hari sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta kepada para pejabatnya untuk memperlambat pengujian. Menurutnya, banyaknya tes yang dilakukan adalah alasan naiknya kasus virus corona di AS.

Warga Jerman sedang menjalani tes Covid-19. (DW Indonesia)
Masyarakt sedang menjalani tes Covid-19. (DW Indonesia)

"Kita tahu pengujian adalah pedang bermata dua. Sekarang, kita menguji 25 juta orang, mungkin 20 juta orang lebih banyak daripada (negara) lain. Jerman dan Korea Selatan telah melakukan banyak hal," kata Trump, Sabtu (20/6/2020).

"Tapi inilah bagian yang buruk, ketika Anda melakukan pengujian sejauh itu, Anda akan menemukan lebih banyak kasus. Jadi, saya berkata kepada orang-orang saya untuk memperlambat tes corona," sambungnya, dilansir dari The Health Site.

WHO mengatakan, peningkatan jumlah kasus ini disebabkan oleh epidemi yang sedang berkembang di sejumlah negara padat penduduk di waktu yang sama, sekaligus di seluruh dunia.

"Jadi dari perspektif itu sejumlah besar negara berkontribusi pada peningkatan keseluruhan," katanya.

Baca Juga: Bikin Heboh, Dokter Ini Tak Sadar Kena Virus Corona dan Tetap Bekerja

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan semua negara sedang menghadapi 'keseimbangan yang rapuh' antara melindungi rakyat sambil meminimalkan kerusakan sosial dan ekonomi.

"Ini bukan pilihan antara kehidupan dan mata pencaharian. Negara bisa melakukan keduanya," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI