Bicara Pelan Bisa Turunkan Risiko Penularan Virus Corona, Ini Alasannya!

Yasinta Rahmawati, Shevinna Putti Anggraeni

Minggu, 13 September 2020 | 17:52 WIB
Bicara Pelan Bisa Turunkan Risiko Penularan Virus Corona, Ini Alasannya!
Ilustrasi ngobrol. (Pixabay)

Suara.com - Virus corona Covid-19 sempat dikatakan bisa menyebar ketika berbicara. Tapi, sebuah penelitian menemukan berbicara lebih pelan bisa mengurangi penularan virus corona Covid-19 secara drastis.

Peneliti mengklaim, mengurangi 6 desibel suara bisa memberikan efek yang sama pada pemotongan transmisi virus corona Covid-19 daripada menggandakan ventilasi ruangan.

"Hasilnya menunjukkan otoritas kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan penerapan zona tenang di lingkungan dalam ruangan yang berisiko tinggi, seperti ruang tunggu rumah sakit atau fasilitas makan," ujar peneliti dari University of California dikutip dari The Sun.

Pada Juli 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengubah panduannya yang mengakui adanya kemungkinan penularan aerosol, seperti selama latihan paduan suara atau ketika berada di restoran yang bising.

Tetesan mikroskopis yang dikeluarkan ketika berbicara cepat menguap meninggalkan partikel aerosol cukup besar yang membawa virus.

Ilustrasi Virus Corona (Unsplash/CDC)
Ilustrasi Virus Corona (Unsplash/CDC)

Peningkatan kenyaringan suara sekitar 35 desibel atau berbicara dengan teriak bisa meningkatkan laju emisi partikel virus sebesar 50 kali lipat.

Orang yang berbicara dengan nada normal biasanya mencapai kisaran 10 desibel. Sedangkan, suara yang bising di restoran biasanya mencapai kisaran 70 desibel.

"Tidak semua lingkungan dalam ruangan sama dalam hal risiko penularan virus melalui aerosol," jelas ketua peneliti William Ristenpart.

Menurut William, ruang kelas yang ramai tapi sepi jauh lebih tidak berbahaya daripada bar karaoke yang tidak ramai. Karena, biasanya orang karaoke bernyanyi dan berbicara dengan keras.

baca juga

Para peneliti pun telah melihat jumlah aerosol dan tetesan yang dihasilkan oleh beberapa orang dengan volume suara berbeda. Cara ini memungkinkan para peneliti menganalisis aerosol yang dihasilkan oleh suara tertentu.

Mereka menemukan bahwa volume suara memegang pengaruh terbesar pada jumlah aerosol yang dihasilkan.

Nyanyian atau teriakan pada tingkat yang paling keras bisa menghasilkan aerosol 30 kali lebih banyak. Karena itu, peneliti menyarankan semua orang untuk berbicara lebih pelan atau lirih.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tulis Cuitan Bernada Nyinyir, Fadjroel Rachman Panen Hujatan Publik

Tulis Cuitan Bernada Nyinyir, Fadjroel Rachman Panen Hujatan Publik

News | Minggu, 13 September 2020 | 15:08 WIB

Kasus Covid di DKI Meningkat, 10 Kawasan Khusus Sepeda Ini Ditiadakan

Kasus Covid di DKI Meningkat, 10 Kawasan Khusus Sepeda Ini Ditiadakan

News | Minggu, 13 September 2020 | 04:50 WIB

Lapor Covid-19 Terima Pengaduan Tolak Tes Swab hingga Keluhan Ortu Murid

Lapor Covid-19 Terima Pengaduan Tolak Tes Swab hingga Keluhan Ortu Murid

News | Jum'at, 11 September 2020 | 16:20 WIB

Terkini

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Jabar | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:32 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:24 WIB

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:18 WIB

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Sport | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:54 WIB

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:28 WIB

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

Riau | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:17 WIB

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:10 WIB

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:04 WIB

×