- Impor nikel Indonesia dari Filipina melonjak setelah Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memangkas kuota produksi nikel nasional lewat RKAB.
- Impor nikel dari Filipina melonjak 82 persen di Januari - Juli 2026 akibat penurunan produksi dalam negeri.
- Pemangkasan kuota produksi memicu kekurangan pasokan bagi 80 smelter Indonesia yang berkapasitas pengolahan 315 juta ton.
Suara.com - Indonesia kini mengimpor nikel dari Filipina setelah pemerintah Presiden Prabowo Subianto memperketat kuota produksi nikel di Tanah Air lewat pemangkasan Rencana Kerja dan Rencana Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan-perusahaan tambang nikel.
Hal ini ironis, karena Indonesia merupakan raja nikel dunia, yang menguasai lebih dari separuh cadangan global.
Menurut data Badan Pusat Statistik, impor nikel dari Filipina meningkat 50 persen pada 2025 menjadi 15,3 juta ton. Pada tujuh bulan pertama tahun ini impor nikel dari Filipina sudah mencapai 11,4 juta ton, naik 82 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Industri pengolahan nikel Indonesia sudah berkembang pesat, tapi ketersediaan bijih nikel mereka berubah. Filipina berada di posisi geografis yang tepat untuk mengisi pasar ini," kata asosiasi industri nikel Filipina dilansir dari Nikkei Asia, Selasa (29/9/2026).
Menurut data Badan Energi Dunia (IEA), Indonesia diperkirakan memiliki cadangan hingga 2,6 juta ton bijih nikel atau sekitar 62,7 persen cadangan dunia dan 1,6 juta ton nikel murni atau sekitar 45,1 persen cadangan dunia.
Tapi pada tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memutuskan untuk memangkas kuota produksi nikel nasional dari 379 juta ton di 2025 menjadi 270 saja. Pemangkasan ini bertujuan untuk menaikkan harga nikel dan menjaga cadangan nasional.
Di sisi lain menurut Asosiasi Penambang Nikel Indonesia atau APNI, kapasitas pengolahan nikel dari 80 smelter di Indonesia mencapai 315 juta ton.