alexametrics

Penyakit Jantung Mulai Mengancam Usia Muda, Ini Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Vania Rossa
Penyakit Jantung Mulai Mengancam Usia Muda, Ini Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Ilustrasi penyakit jantung di usia muda. (Shutterstock)

Mulai dari mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat hingga menyiapkan asuransi kesehatan.

Suara.com - Data World Heart Federation mencatat penyakit jantung sebagai penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Penyakit ini seringkali disebut sebagai silent killer karena dapat menyerang secara tiba-tiba. Dan yang mengerikan, penyakit jantung yang selama ini sering diasosiasikan sebagai penyakit orang tua, kini mulai menjangkiti anak muda.

Penyakit jantung sendiri sering kali disebabkan oleh gaya hidup yang buruk. Itu sebabnya, penting untuk segera mulai mengubah gaya hidup Anda sekarang juga.

Menurut dr. Seth Martin, ahli kardiologi, tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan. Memulai sekarang lebih baik daripada tidak pernah memulai sama sekali. Dan salah satu cara paling ampuh untuk mencegah serangan jantung adalah dengan menjalani gaya hidup sehat, termasuk tidak merokok.

"Jika Anda belum pernah merokok, jantung Anda mungkin berada dalam posisi yang lebih sehat dibandingkan seseorang yang merokok," katanya, mengutip siaran pers Allianz Indonesia yang diterima Suara.com.

Baca Juga: Riset: Fitur Modern di Mobil Bisa Mengurangi Angka Kematian Pengemudi Usia Muda

Data di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), menunjukkan setidaknya 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2,7 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit jantung.

Dan menurut data Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2019, terdapat tren pergeseran pola penyakit jantung, dari yang dahulu lebih sering dialami kelompok usia lanjut, kini juga mulai mengancam kelompok usia muda dengan kualitas kesehatan yang rendah.

Tren tersebut diperkirakan akan terus meningkat, melihat kondisi pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Berkurangnya aktivitas fisik karena adanya pembatasan sosial, dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.

Belum lagi dengan perilaku masyarakat yang menunda perawatan dan enggan mengakses layanan kesehatan karena khawatir tertular Covid-19.

Padahal, selain mengancam nyawa, penyakit jantung juga memakan biaya yang besar untuk pengobatan. Untuk melakukan pengobatan, pasien perlu mengeluarkan biaya yang tinggi dalam jangka waktu yang panjang. Bahkan, tidak sedikit penderita yang harus menghabiskan tabungan atau sampai berhutang.

Baca Juga: 7 Manfaat Buah Naga bagi Kesehatan, Bisa Jadi Menu Tambahan Diet Harian

"Melihat mahalnya biaya pengobatan serta bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit jantung, seharusnya masyarakat tersadar untuk lebih peduli terhadap kesehatan tubuh. Selain menjaga kesehatan, sebaiknya kita juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memproteksi diri menggunakan asuransi kesehatan," kata Marco Japutra, Head of Health Business di Allianz Life Indonesia.

Komentar