facebook

Hukum Puasa Ramadhan Bagi Perempuan Hamil

Risna Halidi | Aflaha Rizal Bahtiar
Hukum Puasa Ramadhan Bagi Perempuan Hamil
Ilustrasi hamil (pixabay.com)

Perlu diketahui bahwa perempuan yang sedang hamil memiliki ketentuan yang sama dengan orang yang sakit.

Suara.com - Menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh merupakan kesempatan umat muslim untuk mendapatkan pahala. Hanya saja sebagian orang tidak mampu dan tidak kuat untuk melaksanakan puasa. Seperti halnya orang berusia lanjut, orang yang sakit, dan orang yang sedang bepergian.

Lalu, bagaimana hukum puasa Ramadhan bagi perempuan yang sedang hamil? Apakah mereka juga mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa?

Melansir dari NU Online, perlu diketahui bahwa perempuan yang sedang hamil memiliki ketentuan yang sama dengan orang yang sakit. Jadi, tidak selamanya perempuan hamil wajib berpuasa, dan juga tidak selamanya perempuan hamil boleh meninggalkan kewajiban puasanya.

Terkait boleh membatalkan atau tidak, ini tergantung pada kondisi kesehatan perempuan tersebut.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Cilegon Banten Kamis 21 April 2022

Ilustrasi perempuan hamil (Shutterstock).
Ilustrasi perempuan hamil (Shutterstock).

Sama halnya dengan orang sakit, perempuan hamil secara umum memiliki tiga keadaan yang punya konsekuensi. Tiga keadaan ini telah dijelaskan dalam kitab Nihayah az-Zain Syarh Qurratul ‘Ain:

“Bagi orang sakit terdapat tiga keadaan. Pertama, ketika ia menduga akan terjadi bahaya pada dirinya yang sampai memperbolehkan tayamum, maka makruh baginya berpuasa dan boleh baginya untuk tidak berpuasa. Kedua, ketika ia yakin atau memiliki dugaan kuat (dhann) akan terjadi bahaya atau uzur yang mengenainya akan berakibat pada hilangnya nyawa atau hilangnya fungsi tubuh, maka haram baginya berpuasa dan wajib untuk tidak berpuasa. Ketiga, ketika rasa sakit hanya ringan, sekiranya ia tak menduga akan terjadi bahaya yang sampai memperbolehkan tayamum, maka haram baginya tidak berpuasa dan wajib untuk tetap berpuasa selama tidak khawatir sakitnya bertambah parah. Sama halnya dengan orang yang sakit adalah petani, nelayan, buruh, perempuan hamil dan menyusui, meskipun kehamilan hasil dari zina atau wathi syubhat” (Syekh Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain Syarh Qurratul ‘Ain, juz 1, hal. 367).

Selain itu, hal demikian juga disampaikan oleh Syekh Ibnu Hajar al-Haitami:

“Sekiranya dengan berpuasa akan terasa berat bagi orang yang sakit atau khawatir sebab puasa sakitnya akan bertambah parah, lama sembuh atau hal-hal lainnya yang dapat memperbolehkan bertayamum, berpijak pada pendapat Syaikhaini. Dikutip dalam kitab al-Majmu’ dari Ashab sekiranya seseorang akan merasa payah (lemas) dengan berpuasa dalam kondisi sakit lalu menimpa padanya bahaya yang berat ia menanggungnya, atas penjelasan yang telah aku sebutkan berupa berbagai macam bahaya dalam tayamum” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 2, Hal. 62).

Dalam konteks perempuan hamil, dalam kondisinya yang tidak berpuasa, maka wajib untuk menggantinya. Bila khawatir terhadap kondisi fisiknya sekaligus kandungannya, maka diwajibkan untuk mengqadha.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Pandeglang Banten Kamis 21 April 2022

Sedangkan bagi yang khawatir dengan kondisi kandungannya, berkewajiban juga mengqadha sekaligus membayar fidyah.

Komentar