Wabah Pneumonia Anak Misterius di China, Kemenkes Sebut Tak Ada Pembatasan Perjalanan dan Isolasi

M. Reza Sulaiman, Dini Afrianti Efendi

Rabu, 29 November 2023 | 16:09 WIB
Wabah Pneumonia Anak Misterius di China, Kemenkes Sebut Tak Ada Pembatasan Perjalanan dan Isolasi
Ilustrasi wabah pneumonia misterius di China. (Unsplash)

Suara.com - Menyusul wabah pneumonia misterius pada anak di China, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan tidak akan menerapkan travel banned atau pembatasan perjalanan dari negara China dan Belanda.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Imran Pambudi mengatakan meski tidak ada travel band sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun Kemenkes menugaskan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk mengajak maskapai lebih mengawasi penumpang dengan gejala pneumonia.

"Meskipun kita tidak melakukan travel band tetapi kami minta kepada teman-teman KKP untuk berkoordinasi dengan maskapai apabila menemukan penumpang yang memiliki gejala pneumonia," ujar Imran saat konferensi pers Ragu (29/11/2023).

Pneumonia adalah suatu peradangan akibat bakteri atau virus pada paru yang menyebabkan adanya gangguan fungsi pada paru.

ilustrasi wabah pneumonia misterius di China (Freepik)
ilustrasi wabah pneumonia misterius di China (Freepik)

Adapun gejala pneumonia yang perlu diwaspadai yaitu batuk, demam, sesak napas, muntah, diare, batuk kering atau berdahak disertai lendir, dan kelelahan.

Selain tidak ada travel band, Imran juga menegaskan pneumonia misterius ini juga tidak akan membuat Kemenkes menerapkan karantina atau isolasi selaiknya pandemi Covid-19 sebelumnya.

Meski begitu, Imran juga tidak menampik jika wabah pneumonia yang masuk kategori undiagnosed ini bisa menjadi pandemi baru. Hanya saja menurutnya alih-alih disebabkan virus seperti Covid-19, pneumonia yang disebabkan bakteri ini penyebarannya cenderung lebih lambat.

"Jadi kita sampaikan penyakit ini tidak separah Covid-19. Tapi seperti kita ketahui memang pandemi itu lebih sering disebabkan virulensi (patogen penyebab kerusakan) itu tinggi. Jadi tidak menutup kemungkinan kemungkinan bisa jadi pandemi. Tapi kalau dibandingkan dengan yang virus, itu jauh lebih cepat virus," papar Imran.

Sementara itu pneumonia misterius pada anak yang marak terjadi di Tiongkok Utara itu mayoritas disebabkan bakteri mycoplasma. Namun karena WHO memberikan signya undiagnosed pneumonia, maka masih ada sebagian kasus anak sakit pneumonia tapi belum diketahui penyebabnya.

baca juga

"Saya sampaikan dari penyebab kasus yang ada itu yang baru ketemu 40 hingga 60 persen, dan sebagian besar itu disebabkan karena mycoplasma. Sisanya masih belum ketemu makanya disebut undiagnosed pneumonia," pungkas Imran.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Heboh Pneumonia Mycoplasma Anak di China Meningkat, Kemenkes Minta Petugas Waspada

Heboh Pneumonia Mycoplasma Anak di China Meningkat, Kemenkes Minta Petugas Waspada

Health | Rabu, 29 November 2023 | 14:45 WIB

Vaksinasi Pneumonia Bisa Cegah Penyakit Diabetes Melitus, Begini Penjelasannya

Vaksinasi Pneumonia Bisa Cegah Penyakit Diabetes Melitus, Begini Penjelasannya

Health | Rabu, 29 November 2023 | 14:20 WIB

Geger Wabah Pneumonia Misterius di China, Kemenkes Minta Masyarakat Tidak Panik

Geger Wabah Pneumonia Misterius di China, Kemenkes Minta Masyarakat Tidak Panik

Health | Selasa, 28 November 2023 | 18:49 WIB

Terkini

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:10 WIB

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

×