- Laporan Halodoc Q1 2026 menyoroti "Health Adjustment Gap" antara niat puasa dan kesiapan fisik tubuh.
- Peningkatan keluhan pencernaan seperti maag dan GERD melonjak 21% pada minggu pertama Ramadan.
- Halodoc meluncurkan asisten digital HILDA untuk memberikan arahan kesehatan di jam-jam tidak lazim.
Suara.com - Bagi banyak orang Indonesia, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga periode perubahan gaya hidup paling signifikan sepanjang tahun. Pola makan bergeser, jam tidur berubah, ritme aktivitas ikut menyesuaikan. Di tengah semangat menjalani puasa, tubuh ternyata membutuhkan waktu untuk mengejar ketertinggalan.
Hal inilah yang tergambar dalam laporan Indonesia Health Insights Q1 2026 yang dirilis Halodoc. Mengangkat tema “Menjembatani Kesiapan dan Tantangan Kesehatan Sepanjang Ramadan hingga Perayaan Idulfitri”, laporan ini menyoroti satu fenomena berulang: kesiapan tubuh yang kerap tak sejalan dengan perubahan pola hidup yang datang secara mendadak.
Halodoc menyebut kondisi ini sebagai Health Adjustment Gap—jarak antara niat menjalani puasa dengan kesiapan fisik yang sesungguhnya.
Lonjakan Keluhan Kesehatan Jelang dan Awal Ramadan
Menariknya, sinyal adaptasi ini sudah terlihat bahkan sebelum puasa dimulai. Pada minggu terakhir menjelang Ramadan, terjadi peningkatan pembelian produk kesehatan di Toko Kesehatan Halodoc. Mulai dari vitamin dan suplemen (30%), obat pencernaan (15%), produk kesehatan mulut dan tenggorokan (16%), hingga perawatan kulit (19%).
Namun, puncak tantangan justru muncul di minggu pertama Ramadan. Keluhan kesehatan didominasi gangguan pencernaan seperti maag dan GERD, dengan lonjakan konsultasi mencapai 21 persen dibandingkan rata-rata minggu sebelum puasa.
Waktu konsultasi pun menarik perhatian. Lonjakan tertinggi terjadi antara pukul 00.00 hingga 05.59—jam-jam menjelang sahur—dengan peningkatan hingga 150 persen. Data ini mencerminkan fase paling tidak nyaman saat lambung dan sistem pencernaan masih berusaha beradaptasi dengan jadwal makan yang baru.

Tubuh Kaget, Lambung Jadi Lebih Sensitif
Menurut dr. Irwan Heriyanto, MARS, Board of Medical Excellence Halodoc, lonjakan keluhan di awal Ramadan merupakan respons alami tubuh.
Baca Juga: Mudik Gratis Lebaran 2026 BUMN Kapan Dibuka? Cek Informasi Resminya
“Di awal puasa, tubuh masih beradaptasi. Jam makan berubah, pola tidur bergeser, sementara hidrasi sering kali berkurang. Kondisi ini membuat lambung lebih sensitif, sehingga keluhan seperti maag, GERD, hingga vertigo kerap muncul bersamaan,” jelasnya.
Tak heran, puncak keluhan ini konsisten terjadi di hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir—menandakan fase adaptasi paling berat terjadi di awal puasa, bukan di pertengahan atau akhir bulan.
Persiapan Sehat, Kunci Puasa Lebih Nyaman
Kabar baiknya, Health Adjustment Gap bukan sesuatu yang tak bisa diantisipasi. Persiapan sejak sebelum Ramadan justru menjadi kunci.
Dr. Irwan menyarankan peningkatan asupan serat dan cairan sebelum puasa dimulai. Selama Ramadan, pola makan yang teratur dan bertahap menjadi penting—baik saat sahur maupun berbuka.
Mulai berbuka dengan air putih, memilih makanan seimbang yang mengandung protein, karbohidrat kompleks, dan serat, serta membatasi makanan berlemak, pedas, dan berkafein dapat membantu meringankan beban pencernaan. Pola minum 2-4-2 antara berbuka hingga sahur juga disarankan untuk mencegah dehidrasi.
Untuk keluhan seperti vertigo dan radang tenggorokan, kualitas tidur, manajemen stres, dan hidrasi yang konsisten memegang peranan besar. Bangun sahur secara perlahan, menghindari kopi atau teh kental, serta memilih minuman hangat bisa membantu tubuh menjaga keseimbangan energi.
Ketika Kebutuhan Kesehatan Datang di Jam Tak Biasa
Perubahan ritme hidup selama Ramadan membuat kebutuhan informasi kesehatan sering muncul di waktu yang tidak umum—tengah malam, dini hari, atau menjelang sahur. Menjawab kebutuhan ini, Halodoc menghadirkan HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), asisten digital berbasis AI yang dirancang untuk memberikan arahan awal seputar kesehatan.
Menurut Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, kehadiran HILDA bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan mendampingi pengguna di langkah pertama saat mereka membutuhkan arahan.
“Di bulan Ramadan, banyak kebutuhan kesehatan muncul di saat yang tidak terduga. HILDA hadir untuk memberikan panduan awal, agar pengguna bisa mengambil langkah medis yang tepat dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, pendekatan ini mencerminkan empati terhadap pengalaman nyata masyarakat selama Ramadan—ketika menjaga kesehatan menjadi bagian penting dari menjaga kualitas ibadah dan kebersamaan keluarga.
Ramadan Bukan Tentang Menahan, Tapi Menyesuaikan
Laporan ini mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar soal menahan lapar dan haus, melainkan proses penyesuaian tubuh dan pikiran. Dengan persiapan yang tepat dan kesadaran akan sinyal tubuh, Ramadan bisa dijalani dengan lebih nyaman, sehat, dan bermakna.
Karena pada akhirnya, tubuh yang siap adalah kunci agar ibadah tetap khusyuk dan momen kebersamaan selama Ramadan hingga Idulfitri dapat dinikmati sepenuhnya.