- Hantavirus sudah ditemukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu.
- Kemenkes mencatat 23 kasus HFRS pada 2024-2026 tanpa kasus HPS.
- Virus ini lebih sering menular lewat kotoran dan urin tikus yang terhirup manusia.
Suara.com - Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius belakangan ramai dibicarakan dan membuat banyak orang mulai bertanya-tanya soal penyakit ini.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah hantavirus apakah sudah ada di Indonesia atau belum.
Jawabannya ternyata iya. Hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia dan sudah terdeteksi sejak puluhan tahun lalu.
Meski tidak sepopuler dengue atau COVID-19, virus ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius.
Hantavirus juga dikenal sebagai ancaman yang sering tidak terlihat. Gejala penyakit ini disebut mirip dengan beberapa penyakit umum lain sehingga banyak kasus diduga tidak terdiagnosis.
![Ilustrasi Hantavirus [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/07/29445-ilustrasi-hantavirus.jpg)
Hantavirus Sudah Lama Ada di Indonesia
Banyak orang mengira hantavirus hanya ditemukan di luar negeri. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa virus ini sudah ada di Indonesia sejak era 1980-an.
Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen.
Artinya, sebagian masyarakat pernah terpapar virus tersebut meski tidak selalu menunjukkan gejala berat atau terdiagnosis secara resmi.
Kemenkes mencatat sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus hantavirus tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) di Indonesia.
Hingga kini belum ditemukan kasus tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) seperti yang ramai dibahas pada kasus kapal pesiar MV Hondius.
Hantavirus yang beredar di Indonesia berbeda dengan tipe yang ditemukan pada kasus MV Hondius.
Tipe HFRS yang banyak ditemukan di Asia, termasuk Indonesia, sampai sekarang belum memiliki bukti penularan antar-manusia.
Mengapa Hantavirus Jarang Disadari?
Salah satu alasan hantavirus sering tidak terdeteksi adalah karena gejalanya mirip penyakit lain. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, mual, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas.
Gejala seperti ini sering dianggap sebagai dengue, tifus, atau leptospirosis. Akibatnya, kemungkinan ada kasus hantavirus yang tidak teridentifikasi dengan benar.
Fenomena ini sering disebut sebagai iceberg phenomenon atau fenomena gunung es. Kasus yang terlihat hanya sedikit, sementara jumlah sebenarnya diduga lebih banyak tersembunyi.