- Dr. I Dewa Gde Dwi Sumajaya menjelaskan kebocoran katup mitral menyebabkan sesak napas dan kelelahan.
- SCVC BALI sukses melakukan tindakan medis minimal invasif M-TEER pertama pada 2 Agustus 2026.
- Pasien laki-laki berusia 68 tahun berhasil ditangani tanpa operasi terbuka di Bali International Hospital.
Suara.com - Mudah lelah, sesak napas, kemampuan beraktivitas menurun, hingga kaki membengkak kerap dianggap sebagai hal yang wajar, terutama ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Namun, sejumlah keluhan tersebut juga bisa menjadi tanda adanya gangguan pada jantung, termasuk mitral regurgitation (MR) atau kebocoran katup mitral.
Kondisi ini terjadi ketika katup mitral tidak menutup dengan sempurna sehingga darah dapat kembali ke ruang jantung. Kebocoran katup mitral dapat berkembang secara perlahan dan gejalanya terkadang tidak langsung disadari.
Menurut dr. I Dewa Gde Dwi Sumajaya, M.Biomed, Sp.JP(K), FIHA, FICA, Konsultan Intervensi Jantung Sapporo Cardio Vascular Clinic (SCVC BALI), masih banyak masyarakat yang menganggap kelainan katup jantung cukup ditangani dengan obat.
“Masih banyak masyarakat yang menganggap kelainan katup jantung cukup ditangani dengan obat. Padahal, obat pada dasarnya membantu mengendalikan gejala dan kondisi pasien, tidak untuk memperbaiki struktur katup yang mengalami kebocoran.”
Karena itu, keluhan yang muncul sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai efek penuaan atau kelelahan biasa.
“Apabila seseorang memiliki keluhan seperti mudah lelah, sesak, atau kaki membengkak, terutama pada usia lanjut, sebaiknya dilakukan pemeriksaan jantung lebih lanjut agar kondisi dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin,” jelas dr. Suma.
Tak Selalu Harus Operasi Jantung Terbuka
Perkembangan teknologi medis kini memberikan pilihan penanganan minimal invasif untuk kondisi kebocoran katup mitral tertentu.
Salah satunya adalah Mitral Transcatheter Edge-to-Edge Repair (M-TEER). Prosedur ini dilakukan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, umumnya dari area pangkal paha, menuju jantung.
Berbeda dengan operasi jantung terbuka, prosedur M-TEER tidak membutuhkan sayatan pada dada atau pembukaan tulang dada.
Dokter menggunakan perangkat khusus untuk melakukan edge-to-edge repair, yakni mendekatkan bagian daun katup mitral yang mengalami kebocoran agar aliran darah yang kembali ke ruang jantung dapat dikurangi.
Selama prosedur, dokter menggunakan ekokardiografi transesofageal sebagai panduan secara real time. Pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan posisi perangkat, memastikan penjepitan katup dilakukan dengan tepat, serta mengevaluasi secara langsung apakah kebocoran sudah berkurang secara optimal.
M-TEER Pertama Dilakukan di Bali
Teknologi tersebut kini tersedia di Bali. Pada 2 Agustus 2026, SCVC BALI berhasil melakukan tindakan M-TEER pertama di Bali International Hospital (BIH).