- Psikolog Orissa Anggita Rinjani menyatakan bahwa keterlibatan emosional penting untuk membentuk rasa aman pada anak.
- Nidya Febriani dan Flori Amelia mengembangkan Minipon guna membantu keluarga menciptakan momen interaksi yang bermakna.
- Minipon memperkenalkan perangkat Storybond dan Connection Cards sebagai media interaksi untuk anak usia sekitar lima hingga delapan tahun.
Suara.com - Membangun kedekatan antara orang tua dan anak ternyata bukan semata-mata soal seberapa lama waktu yang dihabiskan bersama. Menurut psikolog dan Co-founder Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, kualitas interaksi dan keterlibatan secara emosional justru menjadi bagian penting dalam membentuk rasa aman pada anak.
Orissa menjelaskan, anak membutuhkan perasaan bahwa dirinya diterima, dilihat, didengar, dan dipahami oleh orang terdekatnya. Rasa aman tersebut kemudian menjadi dasar bagi anak untuk berani mengeksplorasi lingkungan, mencoba hal baru, bahkan menghadapi kegagalan.
“Anak itu belajar apa pun sebenarnya dasarnya adalah dia merasa safe dulu. Dia merasa diterima, dilihat, didengar, dipahami,” ujar Orissa.
Menurutnya, hubungan yang aman atau secure attachment bukan berarti orang tua harus selalu berada di sisi anak sepanjang waktu. Anak yang memiliki rasa aman justru dapat belajar mandiri karena memiliki keyakinan bahwa orang terdekatnya tetap ada ketika ia membutuhkan dukungan.
Karena itu, membangun kedekatan tidak harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Liburan mahal maupun aktivitas khusus bukan satu-satunya cara menciptakan kenangan bersama anak.

Hal sederhana seperti membaca buku sebelum tidur, sarapan bersama, bermain kartu, atau mengobrol selama beberapa menit pun dapat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan emosional.
“kita bangun setiap hari, pelan-pelan selama 15 menit, 30 menit, tapi fokus untuk anak kita. Sebenarnya itu yang bisa membangun rasa aman buat anak,” kata Orissa.
Ia juga mengingatkan bahwa kebutuhan anak akan perhatian dapat muncul melalui berbagai perilaku. Ketika anak merasa kurang mendapatkan perhatian, mereka terkadang mencari cara agar kembali mendapatkan respons dari orang tua.
Bahkan, perilaku yang dianggap mengganggu seperti melempar mainan atau bertengkar dengan saudara dapat menjadi cara anak memperoleh perhatian. Di sinilah pentingnya orang tua tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga benar-benar terlibat ketika sedang bersama anak.
Berada dalam satu ruangan belum tentu berarti sudah membangun koneksi emosional apabila perhatian masih teralihkan oleh pekerjaan, gawai, atau aktivitas lainnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar lahirnya Minipon, sebuah Emotional Connector IP yang dirancang untuk membantu keluarga menciptakan momen interaksi yang lebih bermakna. Minipon dikembangkan oleh Nidya Febriani dan Flori Amelia, dua ibu yang juga menjalani keseharian sebagai perempuan bekerja.
Pengalaman mereka dalam membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga menjadi salah satu alasan munculnya gagasan tersebut. Keduanya melihat bahwa keterbatasan waktu sering membuat kebersamaan dengan anak terasa seperti pekerjaan tambahan.
Padahal, koneksi emosional dapat dibangun melalui momen sederhana jika dilakukan dengan keterlibatan penuh. Dalam pengembangannya, Minipon melibatkan Rumah Dandelion untuk memberikan perspektif psikologi dan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Konsepnya tidak hanya menyasar hubungan anak dan orang tua, tetapi menggunakan istilah “companion” karena setiap keluarga memiliki kondisi berbeda. Pendamping anak bisa saja ibu, ayah, kakak, kakek, nenek, paman, tante, maupun anggota keluarga lainnya.
Minipon kemudian memperkenalkan dua connection tools, yakni Storybond dan Connection Cards. Storybond merupakan buku cerita dua arah yang dirancang agar anak dan pendamping dapat membaca sekaligus berinteraksi.
Sementara Connection Cards menggunakan pertanyaan atau pemantik percakapan untuk membantu keduanya saling mengenal lebih jauh. Nidya Febriani menjelaskan, pemilihan buku dan kartu bukan tanpa alasan. Keduanya dinilai sebagai media yang relatif mudah digunakan untuk memulai interaksi.
Orang dewasa terkadang ingin bermain bersama anak, tetapi bingung menentukan aktivitas. Dengan adanya alat bantu, kebersamaan dapat menjadi lebih terarah tanpa kehilangan unsur menyenangkan.
“Buku itu kan kita sudah tahu, kita tinggal baca, kita tinggal berinteraksi. Begitu pun kartu, ada sedikit prompt untuk kita bisa lebih mengenal anak,” jelas dia.
Minipon juga menghadirkan karakter dengan kepribadian berbeda yang disesuaikan dengan karakter anak usia sekitar 5–8 tahun. Karakter tersebut dikembangkan melalui proses riset lebih dari satu tahun, sehingga setiap tokoh memiliki sifat yang merepresentasikan beragam tipe anak.
Melalui pendekatan tersebut, Minipon ingin menempatkan permainan dan cerita bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai sarana untuk membuka ruang percakapan. Tujuannya sejalan dengan pandangan psikolog bahwa hubungan yang kuat dibangun dari interaksi yang dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, kedekatan emosional tidak selalu membutuhkan waktu panjang. Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua atau pendamping benar-benar hadir ketika momen bersama itu terjadi.
Sebab, bagi anak, beberapa menit perhatian penuh bisa menjadi pengalaman sederhana yang membentuk rasa aman dan terus terbawa dalam perjalanan tumbuh kembangnya.