- Balon angioplasti membuka sumbatan pembuluh darah jantung tanpa operasi besar.
- Teknologi berkembang dengan penggunaan ring jantung dan balon berlapis obat.
- Prosedur minimal invasif ini membantu melancarkan kembali aliran darah.
Suara.com - Jika dulu sumbatan jantung perlu diatasi dengan operasi bypass dengan sayatan besar, kini penyumbatan pembuluh darah koroner sudah bisa dilakukan menggunakan balon angioplasti atau balon jantung.
Subspesialis Kardiologi Intervensi Jantung Eka Hospital MT Haryono, dr. Rizki, Sp.JP, Subsp.KI (K), FIHA, menjelaskan balon jantung atau angioplasti balon dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah hingga mencapai bagian yang mengalami penyempitan.
Melalui kateter ini, prosedur tidak perlu dilakukan dengan operasi besar tapi dengan minimal invasif atau sedikit perlukaan pada kulit..
Pada ujung kateter terdapat balon yang kemudian dikembangkan di lokasi sumbatan. Proses tersebut bertujuan melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah yang sebelumnya terganggu dapat kembali mengalir.
Dia masukkan kateter ke dalam pembuluh darahnya sendiri, kemudian lapisan lemak yang di pembuluh darahnya itu dia lebarkan pakai balon. Jadi itu istilahnya dulu balon angioplasti, ujar dr. Rizki dalam acara diskusi di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
dr. Rizki mengatakan teknologi tersebut memiliki sejarah panjang. Perkembangan angioplasti koroner bermula pada 1977 ketika seorang pelopor intervensi koroner mencoba membuka sumbatan pembuluh darah dari dalam menggunakan kateter dan balon
![Subspesialis Kardiologi Intervensi Jantung Eka Hospital MT Haryono, dr. Rizki, Sp.JP, Subsp.KI (K). [ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/22/40848-subspesialis-kardiologi-intervensi-jantung-eka-hospital-mt-haryono-dr-rizki-spjp-subspki-k.jpg)
.
"Jadi dulu kalau ada sumbatan, orang lebih tahu ini harus dioperasi. Tapi setelah tahun 1977, itu ada bapak intervensi koroner, dia mencoba membuka sumbatan koroner itu dari dalam," katanya.
Menurut dr. Rizki, tingkat penyumbatan pembuluh darah pada pasien juga tidak selalu sama. Ia menemukan pasien dengan penyempitan sekitar 30 persen, tetapi ada pula yang mengalami penyempitan 50 persen hingga 70 persen.
Pada kasus serangan jantung, penyumbatan bahkan dapat mencapai 95 ada 99 persen atau hingga 100 persen.
Perkembangan angioplasti balon kemudian menghadapi persoalan baru, yakni kemungkinan pembuluh darah kembali menyempit setelah dilebarkan. Kondisi tersebut dikenal sebagai restenosis.
"Perkembangan dari balon angioplasti ternyata ada istilahnya penyumbatan ulang. Re-stenosis istilahnya di sini. Itu makanya orang me-develop si stent atau ring jantung," jelasnya.
Stent atau ring kemudian dikembangkan untuk membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka setelah dilakukan pelebaran menggunakan balon. Teknologi stent juga terus berkembang, termasuk dengan melapisinya menggunakan obat untuk membantu mencegah terbentuknya sumbatan kembali.
Namun, penggunaan stent bukan berarti pasien terbebas dari risiko penyumbatan. Dr. Rizki mengatakan sumbatan baru masih dapat muncul, termasuk di dalam stent yang telah dipasang maupun pada bagian pembuluh darah lain.
Karena itu, perkembangan teknologi intervensi jantung terus berlanjut. Salah satunya melalui drug-coated balloon (DCB), yakni balon yang dilapisi obat.