- Pasien gagal jantung stadium lanjut dapat menggunakan alat bantu mekanis LVAD untuk menggantikan fungsi bilik kiri memompa darah.
- Sebelum operasi kompleks di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, pasien wajib menjalani pemeriksaan komprehensif pada jantung dan organ penting lainnya.
- Tim medis telah sukses melakukan dua implantasi LVAD dalam waktu kurang dari sebulan berkat persiapan dan pelatihan matang.
Suara.com - Ketika jantung sudah tidak lagi mampu memompa darah secara optimal, penanganannya tidak selalu berhenti pada pemberian obat.
Pada pasien dengan gagal jantung stadium lanjut yang tidak lagi merespons terapi secara memadai, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan alat bantu mekanis seperti Left Ventricular Assist Device (LVAD).
Namun, memasang LVAD bukanlah prosedur yang dilakukan begitu saja. Sebelum alat berupa pompa jantung mekanis tersebut ditanamkan ke dalam tubuh, pasien harus menjalani serangkaian pemeriksaan menyeluruh.
Tim dokter juga perlu memastikan seluruh persiapan operasi dilakukan secara matang karena prosedur ini memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. LVAD sendiri merupakan alat yang membantu kerja ventrikel kiri atau bilik kiri jantung, ruang yang berperan memompa darah ke seluruh tubuh.
Alat tersebut membantu mengambil alih sebagian fungsi pompa jantung ketika kemampuan jantung sudah sangat menurun.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, menjelaskan LVAD dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien gagal jantung lanjut yang fungsi jantungnya sudah sangat minimal, terutama setelah berbagai terapi sebelumnya tidak memberikan respons yang diharapkan.

“Assistant device ini suatu alat yang digunakan sebagai pompa jantung artificial yang dipasang secara bedah. Tujuannya untuk mengambil alih pompa jantung di sebelah kiri, yaitu ventrikel atau bilik kiri, kemudian mengalirkan darah menuju ke seluruh tubuh,” ujar Leonardo.
Karena bekerja membantu fungsi jantung, keputusan untuk memasang LVAD membutuhkan penilaian yang tidak hanya berfokus pada kondisi jantung. Dokter perlu melihat kondisi tubuh pasien secara keseluruhan untuk menentukan apakah tindakan tersebut sesuai.
Dokter spesialis bedah toraks-kardiovaskular, dr. Sugisman, Sp.BTKV, Subsp.JD (K), mengatakan evaluasi pasien dilakukan secara lebih detail dibandingkan pemeriksaan jantung pada umumnya.
“Operasi LVAD ini menggunakan advanced technology sehingga evaluasi terhadap pasien tentu perlu dilakukan secara komprehensif,” kata Sugisman.
Pemeriksaan jantung dapat mencakup penilaian tekanan di berbagai ruang jantung. Selain itu, organ lain yang berhubungan dengan fungsi jantung juga ikut diperiksa, mulai dari paru-paru, ginjal hingga hati.
Pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang seperti rontgen toraks dan USG abdomen juga menjadi bagian dari proses tersebut. Seluruh hasilnya kemudian dikumpulkan untuk melakukan klasifikasi dan stratifikasi pasien.
“Kita bisa lakukan stratifikasi, apakah pasien ini layak untuk dilakukan tindakan LVAD atau tidak, karena kategorisasi pasien sangat menentukan outcome tindakan yang akan kita lakukan,” jelas Sugisman.
Setelah pasien dinilai sesuai untuk menjalani prosedur, persiapan tidak berhenti pada sisi pasien. Tim medis juga harus memastikan seluruh personel dan sistem pendukung siap menghadapi tindakan tersebut.
Dokter spesialis bedah toraks-kardiovaskular, dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV(K), mengatakan persiapan dilakukan dengan melibatkan berbagai tim, termasuk anestesi, radiologi, dan tim bedah jantung.