- Pembesaran prostat jinak atau BPH dialami banyak pria lanjut usia dan mengganggu fungsi saluran urine.
- Terapi Rezum menggunakan uap air selama tiga puluh menit untuk menyusutkan jaringan prostat tanpa merusak fungsi seksual.
- Mandaya Royal Puri berhasil menerapkan terapi Rezum dan meraih penghargaan dari Boston Scientific ASEAN.
Suara.com - Masalah prostat menjadi salah satu kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan pria, terutama ketika memasuki usia lanjut. Salah satu yang paling umum adalah pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH).
BPH terjadi ketika ukuran prostat membesar dan menekan uretra, yaitu saluran yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh.
Kondisi ini dapat membuat aliran urine terganggu dan memunculkan sejumlah keluhan yang kerap dianggap sepele, seperti pancaran urine melemah, sulit memulai buang air kecil, lebih sering ingin buang air kecil, hingga harus terbangun beberapa kali pada malam hari.
Prevalensi BPH sekitar 5–6 persen pada pria berusia 40–64 tahun dan meningkat menjadi 29–33 persen pada pria berusia 65 tahun ke atas. BPH juga menjadi masalah prostat yang paling umum ditemukan pada pria berusia lebih dari 50 tahun.
Keluhan tersebut bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas tidur dan kenyamanan. Di sisi lain, sebagian pria mungkin memiliki kekhawatiran lain ketika harus menjalani pengobatan BPH, yakni dampaknya terhadap kehidupan seksual.
Pasalnya, beberapa jenis obat maupun tindakan untuk menangani pembesaran prostat dapat berkaitan dengan gangguan seksual. Karena itu, pilihan terapi yang mampu membantu mengatasi gejala BPH dengan tetap mempertahankan fungsi seksual menjadi salah satu pertimbangan bagi pasien.

Salah satu pilihan yang kini tersedia adalah terapi Rezum. Terapi ini menggunakan energi uap air untuk menangani jaringan prostat yang membesar. Prosedur dilakukan dengan memasukkan alat khusus melalui saluran kencing, kemudian uap air dialirkan langsung ke jaringan prostat yang mengalami pembesaran.
Jaringan prostat yang terkena uap panas tersebut kemudian secara bertahap menyusut. Proses ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada saluran urine sehingga aliran urine menjadi lebih baik.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam terapi Rezum adalah fungsi seksual. Terapi ini dirancang untuk menangani jaringan prostat yang membesar tanpa mengganggu kemampuan ereksi maupun ejakulasi.
Dengan demikian, pasien tetap memiliki pilihan penanganan BPH yang mempertimbangkan aspek kualitas hidup dan fungsi seksual.
Dari sisi prosedur, Rezum juga tidak membutuhkan sayatan pada kulit maupun bius total. Tindakan umumnya dapat dilakukan menggunakan bius lokal atau sedasi dan berlangsung relatif singkat, yakni sekitar 30 menit.
Perbaikan gejala biasanya mulai dirasakan sebagian besar pasien dalam waktu sekitar dua minggu. Hasil terapi kemudian dapat terus berkembang selama beberapa bulan hingga mencapai manfaat maksimal. Setelah tindakan, pasien juga dapat kembali menjalani aktivitas dalam waktu yang relatif singkat.
Erwin Suyanto, Public Relation Manager Mandaya Hospital Group, mengatakan pengalaman penanganan pasien dengan ukuran prostat yang cukup besar menjadi salah satu gambaran penerapan terapi tersebut.
“Sebagai gambaran, ukuran prostat normal pria umumnya hanya sekitar 15–25 cc. Di RS Mandaya Royal Puri, kami pernah menangani pasien berusia 77 tahun dengan ukuran prostat yang mencapai 140 cc, sekitar 5 hingga 7 kali lebih besar dari ukuran prostat normal," kata Erwin.
Setelah menjalani terapi Rezum, lanjut dia ukuran prostat pasien tersebut berhasil menyusut hingga lebih dari separuh ukuran awalnya. Ini menjadi salah satu pengalaman kami dalam menangani pembesaran prostat berukuran besar dan bukti efektivitas dari terapi Rezum.