Suara.com - Ketika seseorang didiagnosis kanker, jenis kanker menjadi informasi awal yang penting. Namun, diagnosis yang sama tidak selalu berarti pasien akan mendapat pengobatan yang sama.
Perkembangan teknologi kedokteran kini memungkinkan dokter menganalisis kanker hingga ke karakter biologis dan mutasi genetik pada sel tumor. Informasi tersebut dapat membantu menentukan terapi yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Hal itu disampaikan Konsultan Senior Onkologi Medis OncoCare Cancer Centre, dr. Kevin Tay, dalam acara di Beautika, Panglima Polim, Melawai, Jakarta Selatan, Jumat (18/9).
Menurutnya, kanker, termasuk kanker paru, memiliki karakter biologis yang beragam.
"Lung cancer bukan hanya satu penyakit. Itu dibuat dari banyak jenis mutasi genetik yang berbeda," ujar dr. Kevin.
Perbedaan mutasi tersebut membuat kondisi biologis pasien kanker paru bisa berbeda satu sama lain. Karena itu, pilihan pengobatannya pun dapat berbeda.
Dokter tidak cukup hanya melihat jenis kanker. Karakter biologis dan mutasi genetik tumor juga perlu diperiksa untuk menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi penyakit.
Kenali Mutasi untuk Menentukan Terapi

Salah satunya melalui pemeriksaan DNA dari jaringan tumor untuk mengetahui mutasi genetik pada sel kanker.
Pemeriksaan ini membantu dokter menemukan mutasi yang dapat menjadi target terapi. Hasilnya kemudian digunakan untuk mempertimbangkan targeted therapy, yakni pengobatan yang secara spesifik menyasar karakter tertentu pada kanker.
"Jadi satu pasien lung cancer mungkin berbeda dengan pasien lung cancer berikutnya, karena mereka mungkin memiliki jenis mutasi yang berbeda. Dan mutasi-mutasi yang berbeda, mereka akan ditangani secara berbeda," tuturnya.
dr. Kevin mencontohkan pasien dengan mutasi EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor), yaitu perubahan pada gen yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker secara tidak terkendali.
Pasien tersebut memiliki tumor berukuran sekitar sembilan sentimeter. Setelah menjalani terapi oral yang menargetkan mutasi tersebut selama enam bulan, ukuran tumor terlihat jauh lebih kecil dalam pemeriksaan.
Contoh tersebut menggambarkan prinsip targeted therapy: ketika target biologis kanker telah diketahui, dokter dapat memilih obat yang bekerja secara spesifik terhadap target tersebut.
Pendekatan serupa juga berkembang pada jenis kanker lain. dr. Kevin menyebut terapi oral untuk kanker pankreas yang menargetkan mutasi K-RAS, perubahan genetik yang dapat membuat sel tumbuh dan membelah secara terus-menerus.
Menurutnya, terapi tersebut telah mendapat persetujuan FDA (Food and Drug Administration) dan tersedia di Singapura.
Beragam Pilihan Pengobatan Kanker
Selain targeted therapy, pilihan pengobatan kanker kini juga mencakup antibody-drug conjugates (ADC). Terapi ini menggunakan antibodi untuk mengenali target tertentu dan mengantarkan obat langsung ke sel sasaran.
dr. Kevin mencontohkan ADC yang menargetkan HER2. Antibodi berfungsi sebagai "pintu masuk" untuk membawa obat ke dalam sel, kemudian obat dilepaskan setelah mencapai sasaran.
"Pada dasarnya, kita gunakan obat ini untuk masuk sebagai pintu masuk daripada kanker dan obat ini baru akan melepaskan kandungannya begitu sudah di dalam sel," paparnya.
Perkembangan ADC juga terlihat pada sejumlah jenis kanker lain, termasuk kanker ovarium dan limfoma. Meski demikian, terapi ini tetap memiliki efek samping sehingga pasien perlu menjalani pemantauan secara berkala.
Pilihan lainnya adalah imunoterapi, yang bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker.
Salah satu mekanismenya melibatkan PD-1 dan PD-L1. Pada kondisi tertentu, interaksi keduanya dapat menghambat sel T, bagian dari sistem kekebalan tubuh, untuk menyerang sel tumor.
Obat penghambat PD-1 bekerja dengan memblokir interaksi tersebut sehingga sel T dapat kembali mengenali dan menyerang tumor.
Namun, imunoterapi tidak memberikan hasil yang sama pada setiap pasien. Karena itu, pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan karakter biologis kanker.
Perkembangan lainnya adalah CAR T-Cell. Dalam terapi ini, sel T pasien diambil dan dimodifikasi di laboratorium sebelum dikembalikan ke tubuh untuk melawan sel kanker.
"Keunggulan dari perawatan ini adalah perawatan hanya butuh satu kali. Kita tidak perlu terus melakukan perawatan setiap tiga minggu, kita hanya perlu melakukan perawatan satu kali," katanya.
Saat ini, CAR T-Cell terutama digunakan untuk sejumlah jenis kanker darah, termasuk B-Cell Lymphoma, B-Cell Leukemia, dan Multiple Myeloma.
Beragam pilihan tersebut menunjukkan bahwa pengobatan kanker kini semakin disesuaikan dengan karakter biologis penyakit. Penanganannya tidak lagi hanya mengandalkan kemoterapi, tetapi juga mencakup terapi yang menargetkan mutasi atau karakter tertentu pada sel kanker.
"Cancer itu bukan hanya tentang kemoterapi. Ada opsi lain seperti targeted, antibody drug conjugates, dan immunotherapy," imbuhnya.
Sebelum menentukan terapi, pasien tetap perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui karakter biologis kanker dan kemungkinan target pengobatannya.
Informasi tersebut menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan pilihan terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Penulis: Chairunisa