- Indoanalgesia Bali 2026 di Denpasar membahas terapi regenerative medicine guna menangani kasus nyeri kronis konvensional.
- Ketua panitia Wayan Widana menyatakan terapi regenerative memerlukan panduan ultrasonografi agar target intervensi menjadi presisi.
- Kegiatan tiga hari tersebut diikuti dokter lintas negara untuk memperdalam praktik klinis pain management secara langsung.
Suara.com - Penanganan nyeri kronis tidak selalu memberikan hasil yang optimal dengan terapi konvensional. Kondisi ini mendorong dokter untuk terus mempelajari pendekatan lain, termasuk terapi regenerative medicine yang dinilai memiliki potensi dalam penanganan kasus nyeri tertentu.
Terapi tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Indoanalgesia Bali 2026 yang berlangsung pada 10–12 September 2026 di Denpasar, Bali.
Ketua Panitia Indoanalgesia Bali 2026, dr. I Wayan Widana, Sp.An, FIPM, FIPP, CIPS, KMN, mengatakan terdapat pasien dengan nyeri kronis, termasuk nyeri neuropatik dan nosiplastik, yang belum memperoleh hasil memuaskan melalui terapi konvensional.
"Kita ingin mengajak semua dokter di Indonesia ini untuk belajar terapi regenerative. Ada juga penyakit-penyakit tertentu yang terapi secara konvensional ini tidak memberikan hasil yang memuaskan, hasil yang bagus sehingga kita harus memikirkan terapi-terapi regenerative," ujar Wayan dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9/2026).
Menurut dia, pengalaman menangani pasien menunjukkan adanya respons yang cukup baik pada sejumlah pasien nyeri kronis setelah menjalani terapi regenerative. Namun, penerapan terapi tersebut membutuhkan pemahaman mengenai target terapi dan teknik intervensi yang tepat.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah penggunaan panduan ultrasonografi (USG) untuk membantu menentukan target terapi secara lebih presisi.
"Workshop dan simposium tentang regenerative medicine, terapi ini dilatarbelakangi juga dengan teori yang kemudian dilanjutkan pemahaman tentang target terapi regenerative medicine dengan panduan ultrasonografi sehingga target terapinya menjadi presisi," kata Wayan.
Penggunaan USG dalam prosedur intervensi juga menjadi bagian dari pembelajaran langsung yang diikuti para dokter. Peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga berlatih melalui sesi hands-on dengan pendampingan dokter yang berpengalaman di bidang pain management.
Dokter Sp.PD, dr. Sandra Surya Rini, mengatakan pembelajaran lintas disiplin membuat penggunaan USG dapat dipahami dari berbagai perspektif dan penerapannya dalam praktik klinis.
"Kita bisa belajar dari spesialistik-spesialistik yang lain untuk mendalami USG dan di mana kita mengaplikasikan dalam praktik sehari-hari. Saya tidak hanya belajar secara teoritis, jadi langsung praktik, langsung kita megang hands-on," ujar Sandra.
Menurut Sandra, pengalaman praktik tersebut memberikan pemahaman baru mengenai penggunaan USG yang tidak terbatas pada satu jenis kebutuhan medis.
"Jadi saya dapat eksperimen yang baru untuk USG ini, ternyata tidak cuma dipakai satu hal saja, jadi banyak hal yang bisa kita lakukan pakai USG ini," lanjutnya.
Pembahasan mengenai terapi regenerative dan pain management tersebut berlangsung dalam rangkaian Indoanalgesia Bali 2026 dengan tema "The Next Chapter in Pain Management: Redefining Analgesia through Regenerative Medicine".
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti dokter dari berbagai latar belakang dan menghadirkan pembicara dari sejumlah negara, termasuk Kanada, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura.
Salah satu peserta asal Malaysia, Dr. Muhammad Asyraf Zubir, menilai materi yang disampaikan pembicara dari Kanada, Dr. Pranab, relevan dengan kebutuhan praktik sehari-hari.
Wayan berharap semakin banyak dokter memahami perkembangan terapi regenerative sekaligus dapat menerapkannya secara tepat pada pasien yang membutuhkan.
"Acara ini diharapkan menjadi wadah dokter memperdalam ilmu pain serta memperluas relasi kedokteran di taraf internasional," ujarnya.