- Fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung tidak beraturan yang risikonya meningkat dua kali lipat setiap sepuluh tahun setelah usia lima puluh tahun.
- Kondisi tanpa gejala ini dipicu oleh faktor usia, hipertensi, obesitas, diabetes, dan gagal jantung yang dapat mengganggu aliran darah jantung.
- Gangguan irama jantung tersebut berpotensi menyebabkan pembentukan bekuan darah yang memicu stroke, sehingga deteksi dini dan perubahan gaya hidup sangat penting.
Suara.com - Gangguan irama jantung atau aritmia tidak selalu ditandai dengan jantung berdebar kencang. Salah satu jenis aritmia yang perlu diwaspadai adalah fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF), yang dapat muncul tanpa gejala tetapi berpotensi meningkatkan risiko stroke.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Kardiovaskular BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo, Dr. dr. Simon Salim, SpPD-KKV, M.Kes., AIFO, FINASIM, FACP, FICA, FACC, FHRS, mengatakan fibrilasi atrium merupakan salah satu gangguan irama jantung yang cukup umum. Kondisi ini ditandai dengan detak jantung yang tidak beraturan dan dapat dialami oleh siapa saja.
Namun, risiko fibrilasi atrium diketahui meningkat seiring bertambahnya usia. Mengacu pada data Framingham, setelah usia 50 tahun, risiko seseorang mengalami fibrilasi atrium dapat meningkat hingga dua kali lipat setiap 10 tahun. Bahkan, hampir 10 persen orang berusia 80 tahun dapat mengalami kondisi tersebut.
"Heart disease itu bukan cuma penyempitan pembuluh darah koroner, bukan cuma serangan jantung, bukan cuma pasang ring. Ada juga masalah irama jantung, salah satunya adalah fibrilasi atrium," ujar Dr. Simon melalui keterangan yang diterima suara.com peringati Hari Jantung Sedunia pada Selasa (29/9/2026).
Fibrilasi atrium terjadi ketika ruang atas jantung atau atrium berdetak secara tidak teratur. Kondisi tersebut dapat membuat aliran darah di dalam jantung menjadi tidak optimal.
Pada sebagian orang, AF dapat menimbulkan gejala seperti jantung berdebar, denyut nadi terasa tidak teratur, mudah lelah, sesak napas, hingga kemampuan melakukan aktivitas fisik menurun. Namun, persoalannya, sebagian pasien tidak merasakan gejala apa pun.

"Kondisi tanpa gejala inilah yang membuat fibrilasi atrium dapat tidak disadari. Seseorang mungkin tetap beraktivitas seperti biasa tanpa mengetahui bahwa irama jantungnya mengalami gangguan," jelas Dr. Simon.
Selain usia, terdapat sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium. Di antaranya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi, obesitas, diabetes, gagal jantung, penyakit jantung struktural, sleep apnea atau gangguan napas saat tidur, serta konsumsi alkohol.
Fibrilasi atrium juga perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan peningkatan risiko stroke. Ketika irama jantung tidak teratur, aliran darah dapat terganggu sehingga darah berpotensi menggenang dan membentuk bekuan atau trombus.
"Jika bekuan tersebut terbawa aliran darah menuju otak, kondisi ini dapat menyebabkan stroke," ungkapnya.
Karena itu, mengenali faktor risiko dan melakukan pemeriksaan apabila muncul keluhan menjadi penting, terutama pada kelompok usia yang lebih tua atau orang dengan penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko AF.
Upaya menjaga kesehatan jantung juga dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup. Pola makan sehat, rutin melakukan aktivitas fisik, berhenti merokok, menjaga berat badan, serta mengendalikan kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah menjadi bagian penting dalam menekan faktor risiko penyakit kardiovaskular.
"Kualitas tidur juga perlu diperhatikan. Orang dewasa dianjurkan mendapatkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Sementara itu, aktivitas fisik dapat dilakukan secara rutin sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan masing-masing," pungkasnya.