- Influenza A merupakan tipe virus pernapasan yang mampu bermutasi genetik sehingga berpotensi memicu epidemi musiman dan pandemi.
- Infeksi virus ini memiliki tingkat keparahan yang bervariasi dan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia serta miokarditis.
- Pemberian obat oseltamivir terbukti menurunkan risiko komplikasi pneumonia hingga lima puluh persen pada pasien yang terinfeksi.
Suara.com - Influenza A apakah berbahaya menjadi pertanyaan yang muncul ketika seseorang mengalami gejala flu dan mendapatkan hasil pemeriksaan yang menunjukkan infeksi virus tersebut.
Jawabannya tidak selalu berarti influenza A akan menyebabkan penyakit berat, tetapi jenis virus ini memang memiliki karakteristik yang membuatnya perlu diperhatikan.
Influenza A merupakan salah satu kelompok virus influenza yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia.
Virus ini berbeda dari flu biasa karena memiliki kemampuan untuk terus mengalami perubahan sehingga seseorang tetap dapat terinfeksi meskipun sebelumnya pernah mengalami influenza.
Tingkat keparahan influenza A juga dapat berbeda pada setiap orang, mulai dari gejala ringan hingga infeksi yang membutuhkan perawatan medis.
Influenza A Apakah Berbahaya?
Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, influenza A merupakan salah satu dari empat tipe utama virus influenza, yaitu influenza A, B, C, dan D.
Pada manusia, influenza A dan B menjadi penyebab utama epidemi influenza musiman, sedangkan influenza A memiliki kemampuan lebih besar untuk memunculkan pandemi.
Salah satu karakteristik influenza A adalah kemampuannya mengalami perubahan pada materi genetik virus.
Perubahan tersebut dapat berlangsung secara bertahap melalui proses yang disebut antigenic drift atau terjadi secara lebih besar melalui antigenic shift.
Antigenic drift merupakan perubahan kecil yang berlangsung secara perlahan akibat mutasi pada virus.
Perubahan tersebut dapat membuat virus memiliki karakteristik yang sedikit berbeda sehingga seseorang yang pernah terinfeksi atau mendapatkan vaksin tetap berpeluang mengalami infeksi kembali.
Sementara itu, antigenic shift merupakan perubahan besar yang dapat menghasilkan virus influenza A dengan karakteristik baru.
Mekanisme inilah yang berkaitan dengan munculnya virus influenza baru yang dapat menyebar luas di populasi manusia.
Influenza A juga memiliki berbagai subtipe yang ditentukan berdasarkan dua protein utama pada permukaan virus, yaitu hemaglutinin atau H dan neuraminidase atau N.
Beberapa subtipe yang secara rutin beredar pada manusia antara lain A(H1N1) dan A(H3N2), sementara subtipe tertentu yang berasal dari hewan dapat sesekali menginfeksi manusia.
Dengan karakteristik tersebut, influenza A memang perlu diwaspadai, tetapi hasil positif tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang akan mengalami penyakit berat.
Tingkat keparahan infeksi dapat dipengaruhi kondisi tubuh dan ada tidaknya faktor risiko tertentu.
Komplikasi Penyakit Akibat Influenza A
Pada sebagian kasus, influenza A dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius, terutama ketika infeksi memengaruhi organ lain atau memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada. Beberapa komplikasi akibat influenza A antara lain:
- Pneumonia. Infeksi influenza dapat menyebabkan pneumonia secara langsung akibat virus atau memicu pneumonia bakteri sekunder ketika pertahanan saluran pernapasan melemah.
- Miokarditis dan perikarditis. Influenza dapat berkaitan dengan peradangan pada otot jantung atau lapisan yang mengelilinginya, yang dalam kondisi berat dapat mengganggu fungsi jantung.
- Ensefalitis. Komplikasi ini berupa peradangan pada otak dan dapat terjadi sebagai komplikasi infeksi influenza, dengan anak-anak termasuk kelompok yang dapat mengalaminya.
- Perburukan penyakit kronis. Infeksi influenza dapat memperparah kondisi kesehatan yang sudah dimiliki, misalnya memicu serangan asma yang lebih berat atau memperburuk penyakit jantung.
- Sepsis. Pada infeksi berat, respons tubuh terhadap infeksi dapat berkembang menjadi sepsis, yaitu kondisi serius yang membutuhkan penanganan medis segera.
Penanganan influenza juga menjadi bagian penting dalam mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.
Salah satu penelitian yang menganalisis data dari 10 uji klinis menemukan bahwa pasien influenza yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan mendapat oseltamivir memiliki risiko pneumonia sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang mendapat plasebo.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai influenza A apakah berbahaya tidak dapat dijawab hanya berdasarkan jenis virusnya, karena tingkat keparahan setiap infeksi dapat berbeda.
Namun, munculnya gejala berat atau memburuknya kondisi setelah terinfeksi influenza memerlukan perhatian medis agar komplikasi dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.