- Kementerian Kesehatan dan berbagai pihak memulai kolaborasi nasional skrining talasemia di Kupang pada 28 Oktober 2026.
- Data YTI 2024 mencatat 13.939 penyandang talasemia dengan perkiraan pembawa sifat mencapai 8,5 hingga 27 juta penduduk.
- Program deteksi dini dan edukasi berkelanjutan ini berlangsung hingga Desember 2027 untuk menekan talasemia mayor.
Suara.com - Talasemia masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Pasalnya, penyakit kelainan darah yang diturunkan secara genetik ini tidak selalu menunjukkan gejala pada pembawa sifatnya.
Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya membawa gen talasemia hingga melakukan pemeriksaan kesehatan.
Padahal, deteksi dini memiliki peran penting untuk mencegah risiko lahirnya anak dengan talasemia mayor, terutama jika kedua orang tua sama-sama merupakan pembawa sifat talasemia.
Data Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) tahun 2024 yang dikutip Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 13.939 penyandang talasemia di Indonesia.
Namun, angka tersebut diperkirakan belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Sekitar 3–10 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 8,5–27 juta orang diperkirakan merupakan pembawa sifat talasemia.
Besarnya perkiraan jumlah pembawa sifat yang belum teridentifikasi membuat talasemia berpotensi menjadi fenomena gunung es. Karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai penyakit ini perlu diikuti dengan kemudahan akses pemeriksaan dan edukasi yang tepat.
Talasemia merupakan kelainan darah akibat gangguan pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Pada talasemia mayor, penderitanya membutuhkan perawatan jangka panjang, termasuk transfusi darah secara berkala sepanjang hidup.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan kualitas hidup pasien, tetapi juga memengaruhi keluarga serta membutuhkan dukungan sumber daya kesehatan secara berkelanjutan.
Sementara itu, pembawa sifat talasemia umumnya dapat menjalani kehidupan tanpa gejala khas sehingga statusnya kerap tidak diketahui. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu langkah penting untuk mengenali pembawa sifat talasemia.
Terlebih, pasangan yang sama-sama membawa sifat talasemia perlu mendapatkan konseling dan informasi medis mengenai risiko genetik terhadap keturunannya.
Perkuat Kolaborasi untuk Deteksi Dini
Pentingnya deteksi dini tersebut mendorong Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn), Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia secara nasional.
Inisiatif ini secara resmi memulai rangkaian kegiatannya melalui kick-off dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PDS PatKLIn 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Oktober 2026.
Ketua Umum PDS PatKLIn periode 2025–2028, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes, Sp.PK, Subsp. KV (K), Subsp. BDKT (K), menegaskan bahwa pencegahan talasemia membutuhkan komitmen bersama dan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
“Pencegahan dan deteksi dini talasemia membutuhkan komitmen dan kolaborasi berkelanjutan. Melalui inisiatif ini, PDS PatKLIn ingin memperkuat peran kedokteran laboratorium dalam memastikan kualitas pemeriksaan, meningkatkan edukasi masyarakat, dan mendorong tindak lanjut yang tepat demi kesehatan generasi mendatang,” ujarnya.
Menurut Teguh, peran laboratorium sangat penting dalam mendukung proses deteksi dini. Pemeriksaan yang berkualitas dapat membantu mengidentifikasi pembawa sifat talasemia sehingga masyarakat memperoleh informasi medis yang tepat untuk menentukan langkah selanjutnya.
Dalam kolaborasi ini, Sysmex Indonesia turut mendukung penguatan kapasitas pemeriksaan laboratorium, edukasi berbasis ilmiah, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Kontribusi industri kesehatan dinilai tidak hanya terbatas pada penyediaan teknologi, tetapi juga mencakup pertukaran keahlian dan dukungan terhadap peningkatan pemahaman masyarakat.
Edukasi Berkelanjutan untuk Generasi Sehat
Rangkaian program skrining dan edukasi masyarakat ini akan berlangsung hingga Desember 2027. Kegiatannya juga mencakup momentum Hari Talasemia Sedunia pada Mei 2027 sebagai kesempatan untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan sejak dini.
Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari banyaknya pemeriksaan yang dilakukan, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat, meluasnya akses edukasi, serta keberlanjutan kolaborasi dalam pencegahan talasemia.
Melalui keterlibatan tenaga medis, pemerintah, komunitas pasien, dan mitra industri, upaya deteksi dini diharapkan semakin mudah dijangkau masyarakat. Dengan demikian, semakin banyak orang dapat mengetahui status kesehatannya dan memperoleh konseling yang sesuai.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mengurangi risiko talasemia mayor sekaligus melindungi kesehatan generasi mendatang menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia.