Sejarah Jemparingan, Panahan dengan Duduk Bersila Asli Yogyakarta

Indotnesia | Suara.com

Kamis, 01 Januari 1970 | 07:00 WIB
Sejarah Jemparingan, Panahan dengan Duduk Bersila Asli Yogyakarta
Indotnesia/Amirul Mukmin

Indotnesia - Sayembara Jemparingan Paku Alam Cup dalam rangka memperingati Hadeging Kadipaten Pakualaman ke 210 baru saja selesai digelar pada Minggu (26/6/2022) di lapangan Kopertis, Yogyakarta.

Budaya ini merupakan salah satu seni olahraga tradisional khas Yogyakarta, jemparingan memiliki sejarah unik yang lekat dengan Kraton Jogja.

Meski asing di kalangan masyarakat umum, jemparingan telah ada sejak terbentuknya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah pimpinan Sri Sultan Hamengkubuwana I pada 1755-1792.

Makna Jemparingan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring tidak ditemukan arti dari kata jemparingan. Meski begitu, terdapat kata jemparing yang berarti panah.

Sedangkan dalam Bausastra Jawa, kata jemparing merupakan bentuk krama inggil dari panah sehingga, jemparingan dapat dikatakan sebagai panahan. 

Secara umum, jemparingan adalah salah satu olahraga yang biasa dilakukan di lingkungan Kraton. Olahraga ini merupakan tradisi peninggalan Kerajaan Mataram dan dulunya hanya khusus dilakukan oleh anggota kerajaan. 

Dalam bahasa Jawa, kegiatan panahan tradisional ini merupakan aktivitas manah yang bertujuan untuk meluncurkan anak panah menggunakan busur agar mengenai target tertentu. 

Manah memiliki arti hati atau pikiran, yang selaras dengan kegiatan jemparingan karena juga menggunakan pikiran dan bahasa untuk tetap fokus dalam menembak target dengan tepat.

Hal tersebut juga bermakna bahwa olahraga khas Yogyakarta ini mengedepankan konsep mendidik tanpa menggunakan mata, melainkan fokus dengan mata hati atau rasa. 

Cara Bermain Jemparingan

Jemparingan gagrak perpani yang dilakukan dengan busur sedikit miring searah jam satu atau dua. [Indotnesia/Amirul Mukmin]

Berbeda dari panahan modern yang dilakukan secara berdiri, jemparingan dengan posisi duduk atau lenggah bersila. Pakaian yang digunakan pun harus khusus baju tradisional berupa lurik atau sorjan. 

Untuk jarak antara pemanah dengan sasaran berupa bandul atau wong-wongan sekitar 30 meter atau disesuaikan.

Setiap tahunnya, jemparingan diadakan saat Hadeging Kadipaten Pakualaman atau peringatan ulang tahun Kadipaten Puro Pakualaman. Selain itu, olahraga ini juga rutin dilakukan dalam 35 hari sekali atau selapan tiap sabtu kliwon. 

Berdasarkan keterangan Ketua Paguyuban Panahan Tirto Kembaran Maulluna Kiswata menjelaskan bahwa jemparingan dibagi menjadi dua, yaitu gagrak mataram dan gagarak perpani.

“Gagrak mataraman itu adiluhung (posisi panah horizontal) karena memang peraturan dari mataram, itu yang sekarang dipakai di Kamandungan Kraton Yogyakarta,” jelas Maulluna saat mempraktekkan kegiatan jemparingan di kawasan Kembaran Ekowisata.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pemkot Yogyakarta akan Mengadakan Macapat Senja di Malioboro

Pemkot Yogyakarta akan Mengadakan Macapat Senja di Malioboro

| Senin, 27 Juni 2022 | 10:08 WIB

Pemkot Yogyakarta Berlakukan Jam Malam untuk Anak di Bawah 18 Tahun, Apakah Efektif?

Pemkot Yogyakarta Berlakukan Jam Malam untuk Anak di Bawah 18 Tahun, Apakah Efektif?

Your Say | Sabtu, 25 Juni 2022 | 20:24 WIB

Kementerian Pemuda dan Olahraga Susun Buku Olahraga Tradisional

Kementerian Pemuda dan Olahraga Susun Buku Olahraga Tradisional

News | Rabu, 07 Agustus 2019 | 09:49 WIB

Terkini

Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah

Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 23:27 WIB

PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat

PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 23:15 WIB

Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi

Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:18 WIB

Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?

Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:10 WIB

Ketika Gaji Hanya Singgah, Anak Muda Makin Belajar Menjaga Nilai Uang

Ketika Gaji Hanya Singgah, Anak Muda Makin Belajar Menjaga Nilai Uang

Sumsel | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:09 WIB

Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental

Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:09 WIB

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:05 WIB

Sinopsis My Dearest Assassin, Film Thailand Penuh Aksi dan Romansa yang Tayang di Netflix

Sinopsis My Dearest Assassin, Film Thailand Penuh Aksi dan Romansa yang Tayang di Netflix

Entertainment | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:00 WIB

Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan

Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 21:54 WIB

Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati

Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 21:35 WIB