Indotnesia - Aksi masturbasi oleh seorang pria di transportasi umum kembali terjadi. Gejala ini dapat disebut dengan eksibisionis.
Sebuah video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang pria melakukan aksi tak senonoh saat berada di gerbong KRL.
Melansir Instagram @beritadiy, peristiwa itu terjadi di KRL Commuter Line JR 205 Rangkasbitung Line pada, Senin (10/7/2023).
Aksi pamer kelamin atau masturbasi di tempat umum bisa masuk gejala eksibisionis. Apa itu?
Mengenal eksibisionis
Eksibisionis adalah bangunan sekuat yang membuat penderita tanpa malu memamerkan alat kelaminnya di depan umum atau kepada orang lain, Anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.
Melansir Psychology Today, gangguan eksibisionistik adalah suatu kondisi yang ditandai dengan dorongan, fantasi, atau tindakan memperlihatkan alat kelamin seseorang kepada orang yang tidak setuju, terutama orang asing.
Misalnya, saat mengendarai motor dan tiba-tiba menunjukkan alat kelamin pada pengendara lain. Bisa juga seorang pria di transportasi umum atau di tempat umum lain yang memperlihatkan angota tubuh sensualnya atau aktivitas sensualnya kepada orang-orang di sekitarnya.
Kondisi ini dianggap sebagai gangguan paraphilic, yang mengacu pada pola gairah seksual atipikal yang persisten dan intens yang disertai dengan tekanan atau gangguan yang signifikan secara klinis.
Baca Juga: Kolaborasi McDonald's x NewJeans, Cek Syarat dan Ketentuan Dapat Merchandisenya
Penderita menganggap respon kaget korbannya atau sekitarnya sebagai bentuk ketertarikan seksual.
Kebanyakan terjadi pada laki-laki dewasa, walau beberapa bisa dialami oleh. Lantas apa yang menyebabkan adanya ganguan eksibisionis?
Penyebab eksibisionis
Meski penyebab pasti eksibisionis belum diketahui, tetapi ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhinya.
1. Ganguan kepribadian antisosial
2. Penyalahgunaan alkohol
3. Penyalahgunaan zat
4. Ketertatikan pada pedofilia
5. Mengalami pelecehan seksual semasa kecil
6. Fantasi seksual masa kecil
6. Paparan pornografi
Pengobatan eksibisionis
Orang yang mengalami ganguan eksibisionis biasanya tidak mau mencari pengobatan atau mengobatinya sendiri jika tidak mendapat paksaan. Oleh karena itu, dukungan orang terdekat sangat diperlukan untuk membantunya menerima perawatan dini yang mencakup psikoterapi dan pengobatan.
Perawatan terapeutik
Menurut penelitian, perawatan terapeutik bisa efektif dalam mengobati gangguan eksibisionistik. Metode ini yaitu dengan memberi individu alat untuk mengendalikan impuls mereka dan menemukan cara lain untuk mengatasi dorongan mereka daripada menunjukkan alat kelamin kepada orang lain.
Terapi perilaku kognitif
Terapi ini membantu penderita untuk mengidentifikasi pemicu yang menyebabkan dorongan mereka dan kemudian mengelola dorongan ini dengan cara yang lebih sehat.
Pendekatan psikoterapi
Psikoterapi yang bisa dilakukan, seperti pelatihan relaksasi, pelatihan empati, pelatihan keterampilan mengatasi, dan restrukturisasi kognitif (mengidentifikasi dan mengubah pikiran yang mengarah pada eksibisionisme).
Pengobatan
Obat-obatan yang dapat membantu mengobati gangguan eksibisionistik yaitu obat penghambat hormon seksual. Obat ini juga berdampak menurunkan hasrat seksual penggunanya. Selain itu, ada juga beberapa obat yang digunakan untuk mengatasi depresi dan gangguan mood lainnya, seperti SSRI, juga dapat mengurangi hasrat seksual.