Suara Joglo - Tiga nama tokoh: Ganjar, Prabowo dan Anies masih memuncaki top survei elektabilitas dan popularitas bakal calon presiden RI pada 2024 mendatang. Jika ketiga tokoh itu bertarung, maka kemungkinan besar bakal terjadi dua putaran.
Namun bila hanya dua calon saja, head to head, maka pilpres hanya akan berlangsung satu putaran saja. Lalu bagaimana analisisnya? Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan studi eksperimental baru-baru ini.
Lembaga survei itu menemukan hasil kalau Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki kelebihan lebih bisa mengatrol elektabilitas Anies Baswedan jika menjadi cawapresnya melawan Ganjar Pranowo. Agus lebih bisa diandalkan, bahkan dibanding Khofifah.
Studi ini mencuat dalam Channel Youtube SMRC TV dalam program: ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode "Mengangkat Anies: AHY atau Khofifah?", Kamis 06/04/2023).
Dikutip dari beritajatim.com jejaring media suara.com, untuk melihat pengaruh wakil tersebut pada Anies, pertama-tama diajukan pertanyaan umum yang menjadi variabel kontrol: kalau Anies berhadapan dengan Ganjar, pilihannya siapa?
Hasilnya 32 persen memilih Anies dan 51 persen memilih Ganjar. Ada 17 persen yang belum menentukan pilihan. Ada beberapa nama yang dimasukkan sebagai treatmen wakil presiden Anies dalam studi eksperimental ini. Pertama, Airlangga Hartarto karena merupakan ketua umum partai besar.
Jika Anies berpasangan dengan Airlangga melawan Ganjar, hasilnya adalah Anies mendapatkan suara 35 persen dan Ganjar 47 persen. Ada sedikit kenaikan suara pada Anies, namun tidak signifikan secara statistik.
Kedua, AHY. Selain sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang pengusung Anies, AHY juga banyak dibicarakan sebagai tokoh yang kemungkinan berpasangan dengan Anies. Jika berpasangan dengan AHY, suara Anies menjadi 47 persen dan Ganjar 42 persen.
Ketiga, Ahmad Heryawan (Aher). Aher adalah politikus PKS dan mantan Gubernur Jawa Barat. Jika berpasangan dengan Aher, suara Anies menjadi 25 persen dan Ganjar 57 persen.
Keempat, Andika Perkasa. Andika disebut, terutama oleh Partai Nasdem, sebagai salah satu tokoh potensial pendamping Anies. Jika berpasangan dengan Andika, dukungan publik pada Anies menjadi 38 persen dan Ganjar 47 persen.
Kelima, Khofifah Indar Parawansah, Gubernur Jawa Timur dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Jika berpasangan dengan Khofifah, suara Anies menjadi 46 persen dan Ganjar 33 persen.
Keenam, Mahfud MD, menteri senior di Pemerintahan Jokowi dan tokoh NU. Jika berpasangan dengan Mahfud MD, dukungan pada Anies menjadi 32 persen dan Ganjar 48 persen.
Ketujuh, Prabowo. Ini, menurut Saiful, adalah salah satu kemungkinan. Jika Anies mengambil Prabowo sebagai Cawapres, suaranya akan menjadi 35 persen dan Ganjar 52 persen.
Saiful menambahkan bahwa ada asumsi karena suara Anies dan Prabowo sama-sama besar sebagai calon presiden, maka jika disatukan, suara mereka akan sangat besar dan bisa mengalahkan Ganjar.
Namun dalam studi ini, hal itu tidak terlihat. Suara mereka jika dipasangkan masih di bawah Ganjar. Salah satu penjelasannya, menurut Saiful, adalah kemungkinan irisan yang tebal antara pemilih Prabowo dan Anies, sehingga ketika berpasangan, tidak menambah suara.