Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat, Rachland Nashidik, mengomentari pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal cawe-cawe yang baru-baru ini dilontarkan.
Usai memberi sambutan di Rakernas III PDIP di Lenteng Agung, Jakarta, Selasa (6/6/2023), Presiden Jokowi kembali menyinggung perihal cawe-cawe yang pernah dilontarkannya.
Presiden Jokowi mengatakan bahwa cawe-cawenya merupakan kewajiban serta tanggung jawab moral dirinya sebagai presiden di masa transisi kepemimpinan.
Itu karena, dia merasa bertanggung jawab untuk memastikan Pemilu 2024 berjalan dengan baik dan tanpa ada riak yang membahayakan negara.
"Masa riak-riak yang membahayakan bangsa saya suruh diam, kan enggaklah," ujar Presiden Jokowi di Lenteng Agung, Jakarta, Selasa (6/6/2023).
Menanggapi hal tersebut, Rachland mengingatkan bahwa kata bahaya yang diucapkan Presiden Jokowi lebih tepat merujuk pada bentrok masa yang terjadi jelang Soeharto lengser di tahun 1998.
“Nyuwun pangapunten, Bapak Presiden. Mara bahaya itu bentrok massa rakyat seperti di tahun 1998 yang berujung kejatuhan Soeharto,” ujar Rachland, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter @rachlannashidik pada Rabu (7/6/2023).
Rachland menegaskan bahwa tragedi berdarah semacam itu sebaiknya memang dihindari. Adapun caranya dengan menghadirkan Pemilu yang bebas, jujur, dan adil.
Namun, Pemilu yang bebas dan jurdil tersebut baru bisa terlaksana jika presiden tidak ikut cawe-cawe seperti yang dimaksud Jokowi.
“Justru pergantian kekuasaan secara paksa dan berdarah itu yang mau kita hindari, yaitu dengan Pemilu yang bebas dan jurdil, tanpa cawe cawe sampeyan,” ujar Rachland.