Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto merupakan satu dari sekian menteri yang pernah mendapat endorsement atau dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Namun, menurut Kritikus Faizal Assegaf, keinginan Prabowo meraih kemenangan dengan bantuan dukungan dari Presiden Jokowi sulit terealisasi lantaran PDIP seolah telah mengunci Jokowi dengan mengusung Ganjar Pranowo.
Oleh karena itu, yang tersisa dari hubungan Prabowo dan Jokowi hanya keakraban sebagai presiden dan pembantunya dengan kepentingan politik yang berbeda.
“Yang tersisa dari kedekatan Prabowo dan Jokowi hanyalah keakraban sebagai pembantu Presiden dan sekaligus rival politik yang saling menjaga kepentingan di antara mereka,” ujar Faizal, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter @faizalassegaf pada Kamis (8/6/2023).
Hal itu menunjukkan bahwa kenekatan Prabowo bergabung ke kabinet Jokowi dengan harapan membuahkan kongsi politik yang kuat ternyata justru menjadi kontradiktif.
Sayangnya, hal tersebut menimbulkan salah satu akibat yang sulit diubah yaitu kekecewaan pendukung Prabowo di Pilpres 2019 lalu.
“Prabowo tidak sekedar gagal meraih sokongan kekuasaan Jokowi. Tapi lebih parah lagi semakin terpuruk di mata pendukungnya,” ujar Faizal.
Namun, aktivis ini menilai masih ada salah satu hal yang bisa diperbaiki, yaitu putar haluan untuk bergabung ke gerakan perubahan yang menunjuk Anies Baswedan sebagai calon presidennya.
“Bisa jadi, situasi yang tidak elok itu merubah sikap politik Prabowo. Putar haluan bergabung dengan arus perubahan yang semakin masif mengusung Anies Baswedan,” ujarnya.
- Lina Mukherjee Jalani Tes Kejiwaan
Baca Juga
Menurutnya, peluang itu jauh lebih baik daripada bermain politik kucing-kucingan dengan Jokowi. “Peluang itu jauh lebih baik, dari pada bermain politik kucing-kucingan dengan janji manis Jokowi yang berujung pengkhianatan dan kebohongan,” ujar Faizal.