Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai kedekatan Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Presiden Joko Widodo tidak akan bertahan lama.
Pasalnya, Yunarto meyakini strategi itu malah akan merugikan Prabowo sendiri lantaran publik bakal menilai calon presiden (capres) Gerindra itu tidak memiliki personal branding yang kuat.
"Cenderung seperti mengakui bahwa Pak Prabowo tidak punya personal branding yang cukup kuat," kata Yunarto dikutip Liberte Suara, Jumat (14/7/2023).
Namun demikian, ia melihat strategi tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap elektoral Prabowo, meskipun tetap Prabowo seperti kehilangan kepercayaan dirinya.
"Kita melihat ke belakang ada upaya Pak Prabowo terus-menerus melekatkan dirinya dengan Jokowi ... terbukti ada kenaikan elektabilitas dari Pak Prabowo," ujarnya.
"Karena pada titik tertentu ya bahwa kemudian ini adalah cara meyakinkan lebih lanjut Pak Prabowo ingin mengatakan 'saya sudah menjadi bagian dari Jokowi loh, saya tidak lagi seperti yang dulu yang menjelek-jelekkan Jokowi,'" terang Yunarto.
Direktur Eksekutif Charta Politika itu mengingatkan kepada Prabowo dan Gerindra bahwa waku menjelang pencoblosan terhitung masih delapan bulan. Jika terjadi dua putaran, lanjutnya, maka waktu masih terhitung ada 11 bulan.
Prabowo juga akan kehilangan kepercayaan publik ketika hanya memanfaatkan gimmick bersama Jokowi.
"Sebagai gimmick awal itu bisa dilakukan dengan baliho dan pamer foto kebersamaan dengan Jokowi tetapi ketika masuk pada masa kampanye atau ketika publik mulai mempertanyakan hal strategi, dan ketika dijawabnya terus-menerus oleh gimmcik, maka akan menjadi bumerang untuk Prabowo," pungkas Yunarto.
Baca Juga: Profil Lucky Hakim, Ikut Terseret Gegara Hubungannya Dengan Panji Gumilang